PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya dinilai bukan semata akibat kondisi alam.
BPBD Kota Palangka Raya menyebut terdapat indikasi kuat kebakaran dipicu ulah manusia, termasuk pembakaran yang dilakukan secara sengaja.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi mengatakan, temuan di lapangan menunjukkan sejumlah titik api berada jauh di dalam kawasan hutan. Kondisi itu menyulitkan petugas saat melakukan pemadaman.
“Ini bukan bencana alam. Ini murni pelaku, dilakukan oleh oknum. Api itu sengaja dibakar di tengah-tengah hutan,” kata Hendrikus, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, lokasi pembakaran yang berada jauh dari akses jalan membuat tim pemadam menghadapi kendala dalam menjangkau titik api. Petugas juga kerap kesulitan mendapatkan sumber air untuk melakukan pemadaman.
Akibatnya, api dapat lebih cepat meluas sebelum berhasil ditangani. Faktor kelalaian maupun kesengajaan manusia pun menjadi perhatian serius dalam upaya pengendalian karhutla.
Hendrikus menegaskan, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memperkuat personel dan peralatan pemadam. Pencegahan juga membutuhkan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.
Kemarau Lebih Cepat dan Kering
Ancaman karhutla tahun ini diperparah kondisi cuaca. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menjadi rujukan pemerintah daerah, musim kemarau di Kalimantan Tengah berlangsung lebih cepat, lebih kering, dan lebih panjang.
Hendrikus mengaitkan kondisi tersebut dengan fenomena El Nino yang disebut cukup kuat pada 2026. Bahkan, berdasarkan data BMKG, kekuatan El Nino tahun ini disebut lebih tinggi dibandingkan kondisi pada 2015.
“Kita dengan data dari BMKG bahwa tahun 2026 ini kita memiliki status kemarau yang lebih cepat, lebih kering, dan lebih lama. Ini karena El Nino yang ada di tahun 2026 ini sangat kuat,” ujarnya.
Dampak karhutla mulai dirasakan di Palangka Raya sejak 28 Agustus 2026. Saat itu, wilayah kota untuk pertama kalinya mulai diselimuti asap tebal.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Palangka Raya meningkatkan status penanganan dari siaga menjadi tanggap darurat.
Asap dari Daerah Tetangga
Hendrikus menjelaskan, asap yang menyelimuti Palangka Raya tidak seluruhnya berasal dari titik kebakaran di dalam wilayah kota. Asap dari daerah sekitar juga terbawa angin dan menumpuk di Palangka Raya.
“Untuk asap saat ini juga membawa asap dari daerah tetangga. Asap menumpuk di Kota Palangka Raya,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, operasi penanganan karhutla membutuhkan dukungan personel dan logistik dalam jumlah besar. Pemadaman melibatkan relawan dan berbagai unsur, sementara kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), konsumsi personel, hingga perlengkapan lapangan terus berjalan.
Pemkot Palangka Raya menyiapkan dukungan anggaran melalui belanja tidak terduga (BTT) untuk memastikan operasi penanganan karhutla tetap berlangsung.
“Jadi seberapa pun anggaran yang diperlukan untuk penanganan karhutla, Bapak Wali Kota sudah sediakan untuk kita semua,” tegas Hendrikus.
Dia menambahkan, penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada BPBD maupun satu unsur tertentu. Keterlibatan relawan tetap diperlukan untuk memperkuat personel Satgas dalam menghadapi kondisi di lapangan.
“Kita menyadari bencana itu tidak akan bisa ditangani hanya dengan BPBD maupun TNPK. Makanya relawan yang ada kita rangkul kembali,” pungkasnya.
Hendrikus berharap kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan. Terlebih, ancaman karhutla masih perlu diwaspadai hingga kondisi cuaca kembali lebih basah.
“Sama-sama satu langkah untuk semoga karhutla ini segera berlalu,” tandasnya. (daq)
Editor : Slamet Harmoko