PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Kontestasi pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030 terus berlangsung. Berbagai isu, tudingan, dan narasi negatif muncul di ruang publik kampus maupun media sosial. Salah satu kandidat yang menjadi sorotan adalah Prof. Bhayu Rhama.
Namun, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR tersebut memilih tidak terlibat dalam polemik. Ia tetap menjalankan aktivitas akademik dan tugasnya sebagai dekan, serta menilai pemilihan rektor seharusnya menjadi ruang adu gagasan dan program, bukan saling menyerang.
“Ketika banyak energi habis untuk saling menyerang, saya memilih menggunakan energi itu untuk berpikir bagaimana UPR bisa lebih maju dan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Bhayu, Kamis (16/7/2026).
Menurut Prof. Bhayu, dalam beberapa pekan terakhir namanya kerap dikaitkan dengan berbagai narasi negatif yang beredar di media sosial maupun grup percakapan internal kampus. Meski demikian, ia mengaku tidak ingin merespons dengan cara yang sama.
Ia menyebut rekam jejak, karya, dan pengabdian menjadi hal yang lebih objektif untuk dinilai dalam proses pemilihan rektor dibandingkan opini yang berkembang.
Prof. Bhayu menegaskan, jabatan rektor bukan sekadar posisi yang harus diperoleh dengan berbagai cara. Menurutnya, pemilihan rektor merupakan momentum untuk menentukan arah pengembangan UPR sebagai perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah.
“Saya tidak ingin pemilihan ini meninggalkan perpecahan. Setelah proses ini selesai, kita semua tetap keluarga besar UPR. Kita tetap bertemu di kampus yang sama, bekerja untuk tujuan yang sama,” katanya.
Ia mengaku prihatin apabila energi intelektual sivitas akademika justru terkuras akibat konflik dan saling serang. Menurutnya, UPR saat ini menghadapi tantangan yang lebih besar, seperti peningkatan mutu lulusan, penguatan riset, inovasi, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Karena itu, Prof. Bhayu mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan pemilihan rektor sebagai contoh pelaksanaan demokrasi akademik yang sehat, bermartabat, dan menjunjung tinggi etika.
Sejumlah akademisi juga menilai kontestasi pemilihan rektor seharusnya menjadi ruang kompetisi gagasan dan program kerja, bukan arena penyebaran isu yang dapat mencederai iklim akademik.
“Saya berharap proses ini berjalan damai, sejuk, dan penuh penghormatan satu sama lain. Siapa pun yang nantinya terpilih, tujuan kita tetap sama, yaitu menjadikan UPR semakin unggul dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi Kalimantan Tengah dan Indonesia,” tuturnya. (daq/yit)
Editor : Heru Prayitno