Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Menjaga "Jati Diri" dari Bahaya Laten Media Sosial: Refleksi di Balik Seruan Bupati Kobar untuk Generasi Muda

Slamet Harmoko • Selasa, 14 Juli 2026 | 12:09 WIB
Bupati Kobar Hj Nurhidayah saat kegiatan di SMPN 2 Arut Selatan, dalam kesempatan itu pihaknya berpesan agar para pelajar menjauhi narkoba hingga LGBT. (Prokom Kobar)
Bupati Kobar Hj Nurhidayah saat kegiatan di SMPN 2 Arut Selatan, dalam kesempatan itu pihaknya berpesan agar para pelajar menjauhi narkoba hingga LGBT. (Prokom Kobar)
RADARSAMPIT.JAWAPOS.COM - Urusan masa depan anak muda ini pancen selalu bikin kita, terutama yang sudah bapak-bapak atau ibu-ibu, kepikiran sampai susah tidur. Bayangkan, tantangan membesarkan anak zaman sekarang itu beda jauh dengan zaman saya dulu.

Kalau dulu godaannya paling banter cuma bolos sekolah buat main PS atau nyolong mangga tetangga, sekarang urusannya sudah merembet ke ranah digital yang ndak kelihatan wujudnya tapi dampaknya luar biasa.

Fenomena inilah yang memicu Bupati Kotawaringin Barat (Kobar), Ibu Nurhidayah, untuk urun rembug dan angkat bicara di Pangkalan Bun.

Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari Forkopimda sampai para pemuda sendiri, untuk bareng-bareng kompak merapatkan barisan.

Musuh yang dihadapi kali ini adalah apa yang beliau sebut sebagai penyakit masyarakat yang mengintai moral generasi penerus, khususnya peredaran narkoba dan fenomena LGBT.

Menurut Ibu Nurhidayah, hal-hal seperti ini bukan perkara sepele karena langsung menghantam mental, akhlak, dan masa depan anak-anak kita.

Namanya narkoba, sekali kecanduan, masa depan ya otomatis suram. Begitu pula dengan fenomena sosial lainnya yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai karakter yang ingin dibangun di daerah.

Nah, menariknya, Ibu Bupati langsung menunjuk satu biang kerok yang membuat penularan hal-hal negatif ini berjalan secepat kilat: Media Sosial.

Iya, sampeyan ndak salah dengar. Medsos kita hari ini itu ibarat pasar malam yang buka 24 jam tanpa penjaga gerbang. Apa saja dipertontonkan di sana, bebas dikonsumsi siapa saja, termasuk oleh anak-anak di bawah umur yang benteng filternya belum kuat.

Makanya, orang nomor satu di Pemkab Kobar ini memberikan perhatian ekstra, terutama buat anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Anak SMP itu, menurut beliau, lagi ada di fase transisi yang paling krusial. Mereka lagi genit-genitnya mencari jati diri dan membentuk karakter.

Kalau di fase ini tontonan dan asupan algoritmanya di medsos sudah ngawur, ya jangan heran kalau gedenya nanti ikut-ikutan ngawur.

Lalu, apa solusinya? Beliau ndak cuma sekadar melarang, tapi memberikan arahan taktis ke pihak sekolah.

  • Pertama: Berikan edukasi dan pemahaman yang gamblang ke peserta didik. Jangan ditutup-tutupi tapi diarahkan dengan benar.

  • Kedua: Perbanyak kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) yang produktif. Ini penting, Lur. Logikanya sederhana: kalau energi anak muda habis dipakai buat main basket, latihan musik, atau bikin robotika sampai sore, mereka bakal kecapekan dan ndak punya waktu lagi buat melamun atau membayangkan hal-hal negatif yang merusak diri.

Bahkan, saking seriusnya urusan ini, ancaman non-militer semacam ini kabarnya juga sudah selaras dengan perhatian pusat lewat Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara. Jadi ini sudah bukan cuma urusan moral lokal, tapi sudah masuk ranah ketahanan nasional.

Di akhir pesannya, Ibu Nurhidayah menyelipkan kalimat yang menurut saya cukup menyentuh hati: "Ingat orang tua dan ingat masa depan kalian."

Kalimat itu sederhana, tapi jero (dalam) banget maknanya. Masa depan Kobar, bahkan impian Indonesia Emas tahun 2045 nanti, itu bukan di tangan para politisi yang hobi obral janji, tapi ada di genggaman anak-anak SMP dan SMA yang sekarang lagi sibuk scrolling gadget itu. Persaingan ke depan itu kejam dan semuanya berpacu dengan waktu.

Jadi buat adik-adik di Kobar, yuk diatur lagi porsi main medsosnya. Fokus bikin bangga orang tua, patuhi aturan sekolah, dan cari jati diri lewat jalur prestasi yang positif. Jangan sampai kendali hidupmu malah disetir sama tren medsos yang merusak masa depanmu sendiri. (*)

Editor : Slamet Harmoko
bupati kobar Nurhidayah lgbt media sosial narkoba