Musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) rupanya sudah mulai menunjukkan taring aslinya. Ndak tanggung-tanggung, panasnya kali ini bukan cuma bikin kulit legam, tapi sudah mulai bikin sumur-sumur warga ikutan "pingsan" alias mengering.
Kalau biasanya berita kemarau itu identik dengan urusan kebakaran hutan yang bikin langit berubah oranye, kali ini dampaknya sudah langsung menusuk ke kebutuhan paling mendasar umat manusia: air bersih.
Coba tengok nasib Mbak Fina, salah satu warga Kecamatan Cempaga. Beliau bercerita kalau sudah seminggu terakhir ini sumur di rumahnya yang sedalam empat meter itu ndak lagi mengeluarkan air setetes pun.
Isinya cuma angin sama kegelapan. Kebayang ndak, Lur? Mau masak bingung, mau buang hajat was-was. Akhirnya, demi bisa bertahan hidup, Mbak Fina sekeluarga terpaksa melakukan ritual kuno: turun ke Sungai Cempaga cuma buat numpang mandi dan mencuci pakaian.
Sialnya lagi, Sungai Cempaga yang jadi tumpuan terakhir itu pun kondisinya sudah mulai ringkih. Air pasang yang biasanya tinggi, sekarang surut drastis gara-gara hujan sudah lama absen menyapa bumi Kotim.
Nasib apes yang berbeda tapi satu paket juga dirasakan oleh Mas Taufiq di kawasan Danau Lentang, Desa Luwuk Bunter. Mas Taufiq ini pusing karena saluran irigasi baik yang primer maupun sekunder yang jadi urat nadi perkebunannya sudah berubah wujud jadi parit tanah yang kering kerontang.
Efek dominonya ganda, Lur. Kebunnya terancam gagal panen karena kurang minum, dan akses jalan menuju kebun yang biasanya lewat jalur air sekarang jadi terganggu. Lengkap sudah penderitaannya.
Lalu, kenapa kemarau tahun 2026 ini kok rasanya galak betul?
Ternyata, menurut ramalan BMKG di bulan Juni kemarin, curah hujan di Kotim memang lagi tiarap di tingkat yang sangat mengenaskan, cuma 0 sampai 20 milimeter alias di bawah normal.
Bahkan, Pak Bupati Kotim, Halikinnor, sampai membawa kabar yang bikin bulu kuduk berdiri: berdasarkan info BMKG, kemarau tahun ini berpotensi jadi yang terpanas dalam 30 tahun terakhir!
Gusti… Puncak kemaraunya saja baru diprediksi akhir Juli sampai Agustus nanti, tapi sekarang pertengahan Juli saja rasanya sudah seperti disengat kompor raksasa.
Untungnya, Pak Bupati ndak tinggal diam melihat warganya mulai megap-megap kekurangan air. Beliau menjanjikan kalau kondisi krisis air bersih ini makin parah, Pemkab bakal langsung melakukan dropping alias menggelontorkan bantuan air bersih yang dikirim langsung dari Sampit.
Di akhir obrolan, Pak Halikinnor juga memberikan wanti-wanti yang sangat serius buat warga, terutama para petani yang masih menggarap lahan.
Tolong lah, dalam kondisi tanah yang kering kerontang mirip kerupuk begini, jangan sekali-kali memicu api sekecil apa pun. Jangan sampai kecerobohan modal korek api malah bikin Kotim panen bencana asap yang bikin dada sesak.
Kita beneran kudu waspada, Lur. Kalau sumur sudah kering dan sungai mulai surut, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menghemat air seefisien mungkin dan berdoa semoga ramalan "terpanas 30 tahun" ini bisa dilewati tanpa perlu ada drama bencana yang besar. (*)