Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kulit Kayu dan Simbol Ketahanan Pangan Masyarakat Meratus

Admin • Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:21 WIB
Bagian dalam lampau (lumbung padi) yang berisi lulung (tempat menyimpan padi). Lulung terbuat dari kulit kayu damar. Padi yang disimpan di dalam lulung bisa bertahan 10-15 tahun. (Foto: Mashudi/2022)
Bagian dalam lampau (lumbung padi) yang berisi lulung (tempat menyimpan padi). Lulung terbuat dari kulit kayu damar. Padi yang disimpan di dalam lulung bisa bertahan 10-15 tahun. (Foto: Mashudi/2022)

 

Oleh: Dr. Setia Budhi* | Editor: Andriani SJ Kusni

Dalam diskursus perubahan iklim global, para pembuat kebijakan sering kali terjebak pada solusi-solusi teknokratis yang berbiaya mahal. Kita kerap mencari jawaban ke luar, sementara di pedalaman Pegunungan Meratus, masyarakat adat telah mempraktikkan sebuah manifestasi teknologi kebudayaan yang paripurna dalam wujud Lulung.

Lulung di Meratus, leuit di Sunda, alang di Toraja, maupun rangkiang di Minangkabau, semuanya memiliki satu benang merah tempat simpan padi yang sama bahwa pangan adalah ruang sakral. Seluruh instrumen tradisional ini didesain bukan untuk melayani keserakahan pasar (komersialisasi), melainkan untuk menjaga napas hidup komunitas (subsistensi) dan merawat keseimbangan hidup dengan alam sekitar.

Lulung lebih dari sekadar wadah penyimpanan padi tradisional yang terbuat dari jalinan kulit kayu, lulung adalah sebuah artefak antropologis yang mencerminkan filosofi subsistensi murni dan wujud penghargaan paling mendalam manusia terhadap alam yang menghidupinya.

Bagi masyarakat Meratus, ketahanan pangan bukanlah tentang akumulasi kapital atau eksploitasi lahan secara masif, melainkan tentang harmoni dan kecukupan. Lulung didesain dengan kesadaran ekologis yang tinggi. Keputusan menggunakan kulit kayu—bukan menebang pohon secara utuh—menunjukkan sebuah etika lingkungan yang ketat: mengambil dari alam hanya seperlunya tanpa mematikan sumbernya.

Kulit kayu yang dikupas dengan teknik khusus ini memiliki kemampuan alami untuk menjaga sirkulasi udara dan kelembapan di dalamnya, memastikan benih dan padi hasil panen tetap awet bertahun-tahun tanpa sentuhan zat kimia buatan. Di sinilah letak kecerdasan lokal (traditional knowledge) itu sebuah teknologi ramah lingkungan yang lahir dari pembacaan intim terhadap sifat-sifat alam.

Secara sosiologis, keberadaan lulung di dalam atau di sekitar ruang domestik masyarakat adat mengukuhkan konsep subsistensi yang menolak tunduk pada logika pasar. Padi yang disimpan di dalam lulung tidak pernah diposisikan sebagai komoditas komersial untuk mengejar keuntungan materi, melainkan sebagai cadangan hidup bersama untuk mengantisipasi masa-masa sulit atau gagal panen.

Lulung adalah jaminan sosial komunal. Ia mengajarkan bahwa masa depan tidak dihadapi dengan keserakahan hari ini, melainkan dengan menabung secara bijaksana apa yang telah disediakan oleh bumi dan kemudian tiba pada kesakralannya pada ritual Aruh.

Ketika hari ini dunia internasional kebingungan mencari formula ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim, lulung menawarkan sebuah tesis tandingan yang kuat. Sistem pangan modern yang monokultur dan eksploitatif terbukti rapuh saat krisis iklim. Sebaliknya, sistem pangan berbasis kearifan lokal seperti yang melekat pada lulung terbukti mampu bertahan melintasi generasi karena ia tidak pernah memperlakukan hutan sebagai objek jarahan.

Menjaga eksistensi lulung dan filosofi di belakangnya adalah langkah krusial untuk mempertahankan benteng terakhir kebudayaan kita. Menghancurkan hutan tempat kayu-kayu itu tumbuh, sama saja dengan menghancurkan lumbung hidup dan memutus kedaulatan pangan yang menjadi jangkar bertahan hidup masyarakat adat Kalimantan.***

 

*Dr. Setia Budhi, Antropolog Universitas Lambung Mangkurat

 

 

Editor : Heru Prayitno
#masyarakat adat #Sahewan Panarung