Oleh: Dr. Setia Budhi* | Editor: Andriani SJ Kusni
“Bahinip kita mati.” Kalimat itu meluncur dari mulut seorang petani di Samuda, Kotawaringin Timur. Ia, yang tekun bergerak di Sakula Budaya, seolah sedang merapal mantra kematian—atau mungkin sebuah peringatan terakhir. Saya memungut fragmen percakapan ini dalam sebuah diskusi singkat dengan sahabat lama, Kusni Sulang. Kami adalah dua kawan lama yang tetap “tidak akur” dengan deru globalisasi yang bengis. Sebuah gerakan yang tak hanya nakal, tapi kejam menghantam sisi-sisi lokalitas.
Globalisasi, dalam wajahnya yang paling rakus, memaksa petani kita bertekuk lutut pada bibit seragam dari laboratorium nun jauh di sana. Ia mendikte lidah kita dengan rasa global, menyelubungi tubuh kita dengan simbol-simbol prestise—seperti logo centang pada sepatu yang membuat pemakainya merasa gagah, padahal itu hanyalah perangkap “McDonaldisasi” yang mematikan nalar mandiri.
Ingatan saya melayang pada sebuah fragmen di Kongres Dayak di Palangkaraya, bertahun-tahun silam. Kala itu, panggung diisi oleh nama-nama besar: Prof. Selo Soemardjan, Ignas Kleden, hingga Prof. Sayogyo. Cendekiawan yang waktu itu terus berupaya pentingnya membangun “rumah identitas”. Di sana saya belajar, bahwa identitas bukanlah barang dagangan yang bisa didefinisikan oleh “orang luar” tanpa risiko, tetapi ia semestinya tampil juga dari dengan apa yang saya sebut sebagai ‘Dayak Menulis dari Dalam’.
Hari ini, petani di Samuda dan mereka yang bergerak di Sakula Budaya tampaknya sedang menulis ulang sejarah itu. Mereka bergerak berkelindan dalam dialektika yang tangguh: dari gerakan menjadi organisasi, dan dari organisasi kembali menjadi gerakan. Identitas Dayak kini melampaui sekadar bait-bait Karungut. Ia menjadi jangkar yang menyatukan, tak peduli apa agamanya, apa bahasanya.
Spirit itu terawat dalam ritual-ritual penyembuhan—apakah itu beliant sentiyu, balian, babalian, basarung, berayah, atau badewa. Ini bukan sekadar mistisisme, melainkan kedaulatan spiritualitas yang terpatri erat pada tanah leluhur dan etniknya.
Namun, benarkah jika badiam—diam—berarti mati?
Kalimat pendek itu sarat beban filosofis. Untuk apa kita ada jika keadilan sosial terus terampas? Apa gunanya slogan ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ jika ia mendadak hampa saat berhadapan dengan konflik tanah adat? Kata “beradab” seharusnya menjadi fondasi republik ini, tetapi di lapangan, kita menyaksikan manusia-manusia yang kehilangan adab karena keserakahan.
Di titik ini, badiam bukan lagi emas. Diam adalah bentuk kelemahan, kepengecutan, dan apatisme yang akut. Seringkali, diam menjadi pilihan karena kita tak ingin “kepentingan” pribadi terganggu. Kita memilih bungkam demi zona nyaman, sembari membiarkan ketidakadilan lewat di depan mata.
Minggu ini, di bawah langit cerah di tepian Sungai Barito, saya menyaksikan paradoks itu nyata di depan mata. Baru sejenak duduk, sudah tujuh tongkang pengangkut batu bara melintas anggun, merayap dari arah hulu. Itulah energi fosil, energi global yang dikeruk dari jantung Barito untuk menerangi dunia. Namun, muncul tanya yang menyakitkan: apakah penduduk yang bermukim di sepanjang sungai legendaris ini sadar bahwa mereka punya hak untuk tahu? Untuk siapa kesejahteraan dari emas hitam itu mengalir?
Ironi mencapai puncaknya ketika beberapa penduduk di pinggir sungai justru berharap rumah panggung mereka ditabrak oleh tongkang-tongkang raksasa itu. Mengapa? Karena hanya dengan cara tragis itulah, mereka bisa mendapatkan ganti rugi. Ini adalah bentuk perlawanan dalam diam—sebuah sabotase diri yang menyedihkan sebab mereka tahu benar, berteriak meminta perhatian perusahaan tambang hanya akan membuang energi. Suara mereka tak akan pernah sampai, hingga gubuk-gubuk mereka jabuk (lapuk) dan runtuh dimakan waktu.
Di tepian Barito, saya merenungi kembali kalimat petani Samuda itu. Jika kita memilih bahinip, jika kita memilih diam saat ruang hidup kita digerus, maka sebenarnya kita sudah mati sebelum ajal menjemput.
Tepian Sungai Barito, 26 April 2026
*Penulis, antropolog, pengajar di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin
Editor : Heru Prayitno