Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Menguak Fenomena Gunung Es Judol dan Nyali Presiden Menghentikannya

Sabrianoor • Jumat, 17 Januari 2025 | 17:43 WIB
Sabrianoor
Sabrianoor

Radarsampit.jawapos.com – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah merilis 10 hasil laporan analisis, yang di antaranya diketahui sejak Januari-Juni 2024, jumlah perputaran dana terkait judi online mencapai Rp13,2 triliun.

Perputaran transaksi terkait judi online cenderung meningkat. Pada 2021, mencapai Rp57,91 triliun. Kemudian, meningkat menjadi Rp104,42 triliun pada 2022.

Di tahun berikutnya, perputaran transaksi semakin menunjukkan nilai fantastis, yang di mana tahun 2023 semakin melonjak menjadi Rp327,05 triliun.

Sedangkan pada semester pertama tahun 2024, sudah mencapai 174,56 triliun. Mirisnya, orang dalam punya andil dalam kontribusi lingkaran setan ini.

Diketahui baru-baru ini, Polda Metro Jaya telah menangkap 15 orang tersangka kasus judi online yang ternyata 11 di antaranya adalah pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi).

Menanggapi fakta di atas, Presiden RI Prabowo Subianto telah mengarahkan Kemenko Polkam, Kejagung hingga Polri untuk tidak ada yang membekingi judi online.

Dikutip dari Kompas.com, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid mengungkapkan pesan Presiden mengenai permasalahan judi online.

”Terkait judi online, dan ini sudah kita dengar berulang kali langsung dari beliau. Dari Presiden. Jadi, artinya beliau kembali menegaskan bahwa kita semua harus memerangi judi online. Pesan beliau kali ini adalah bekerja sama dengan baik," ujar Meutya dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, pada Rabu (6/11/2024).

Dari tipikal Presiden Prabowo yang terkesan idealis, tegas, dan berani, seperti membawa secercah harapan positif langkah tegas pemberantasan judol.

Namun, sampai di mana ketegasan ini jika berhadapan dengan kepentingan tak kasat mata?

Citra idealisme ketegasan yang digaungkan Prabowo setiap kali dalam orasi kampanyenya akan benar-benar diuji terhadap permasalahan yang sekilas sepele, namun punya nilai profit fantastis bagi mafia judol maupun orang dalam yang ikut membekinginya.

Pendakwah muda yang juga pernah berkecimpung sebagai bandar judol, Denis Lim, pernah memberikan pernyataan beberapa waktu lalu. ”Kuenya terlalu besar” untuk bisa judol dihentikan.

Artinya, dirinya yang tahu seluk-beluk dunia mafia judol, pesimistis hal ini bisa diberantas dengan mudah tanpa keseriusan, karena ada iming-iming keuntungan besar yang cenderung diikuti hawa nafsu keserakahan manusia.

Hawa nafsu dan otak setan yang ada pada mafia dan orang-orang yang membekinginya, telah membuatnya tega memanfaatkan keawaman masyarakat akan tipu daya judol.

Rehabilitasi yang tidak memadai, seperti kecanduan narkoba, minimnya sosialisasi, dan literasi masyarakat bahwa judi online adalah penyakit mental serta akses pemutusan situs yang terkesan setengah-setengah, jadi celah, jadi alasan, mengapa akar lingkaran setan ini tidak mudah terputus.

Mafia judol, contohnya seperti provider slot sendiri, sangat mungkin telah merekrut ahli-ahli psikologis untuk menciptakan dopamin yang meningkat melalui alur, tampilan dan algoritmatik putaran slot.

Sehingga jeratan psikologis korban judol lebih mengikat, bahkan terkadang provider sangat percaya diri memberikan jackpot atau kemenangan yang besar terlebih dahulu kepada pemain slot untuk di kemudian hari mengambil keuntungan jauh lebih besar dari korbannya.

Para mafia sangat tahu, berhenti dari judol bagi korbannya bukanlah perkara mudah.

Pengamatan di lapangan membuktikan, mereka akan kembali bermain.

Hal ini tidak dapat disanggah dari data-data analisa PPATK, di mana setiap tahun transaksinya semakin menunjukkan peningkatan fantastis.

Masyarakat awam dengan mudahnya berkata, cukup dengan berhenti. Namun, fakta di atas menunjukkan sebaliknya.

Semua tahu, apalagi korbannya. Tidak ada yang kaya dari judi, bahkan meski telah habis semuanya, tidak akan membuat semudah itu berhenti.

Mengapa korban judol susah berhenti?

Dihimpun dari berbagai sumber, ditemukan adanya kompleksitas dorongan untuk berjudi baik dari sisi ekonomi, pelarian masalah, euforia, dan lain sebagainya, yang ke semuanya mengarah kepada pelepasan dopamin (candu).

Candu inilah yang sulit dikontrol per individu tanpa dorongan sosial, bantuan psikologis, dan literasi masyarakat.

Masyarakat mengira, korban judol bisa mengontrol dirinya, namun sebenarnya bagi mereka yang telah dalam tahap candu. Mental yang buruk akan mengalahkan logika.

Keawaman dan penghakiman masyarakat juga telah membuat populasi korban judol dalam tahap candu seperti gunung es.

Hal ini dikarenakan tidak mudah menyampaikan apa adanya, jika dilihat dari respons masyarakat dari literasi psikologis yang minim.

Hal inilah yang dimanfaatkan para mafia judol untuk meraup keuntungan yang besar.

Eksistensi mafia judol tentu saja memerlukan 'pelicin' dari mereka yang punya kewenangan.

Dengan iming-iming bagian 'kue yang besar', menjadikan judol adalah ’ATM super besar'.

Lumbung uang yang terus mengalir, baik bagi mafia maupun yang membekinginya.

Tentu saja keuntungan di atas diambil dari 'tangis darah' korban jeratan judol.

Ada korban yang melarikan pada bunuh diri, perceraian, pembunuhan, perampokan, dan kehancuran sosial lainnya.

Sangat mungkin semuanya berakar dari judol. Namun, yang terlihat hanyalah sebagian kecil. Tak mudah mengakui di tengah literasi masyarakat yang dibiarkan minim.

Hal ini seperti layaknya fenomena gunung es. Akar dari bunuh diri, perceraian, dan lainnya.

Begitu pun dengan mafianya, juga sangat mungkin. Seperti fenomena gunung es, dengan ’kue yang besar’, hanya sedikit yang terlihat.

Kompleksitas dan kekejaman di atas kadang masih seringkali dinormalisasikan sebagai hal yang sepele.

Literasi masyarakat yang dibiarkan rendah tentang judol sendiri, selain dimanfaatkan elite mafia juga akan mendiskriminasi para korban judol yang seharusnya butuh penanganan yang tepat.

Bahkan, keawaman masyarakat sudah menjadikan judol jauh berkali lipat lebih berbahaya dibanding kecanduan narkoba.

Untuk memutus mata rantai lingkaran setan ini tentunya perlu ketegasan dan idealisme dalam artian sebenarnya.

Sosok Presiden RI Prabowo Subianto yang mengambil perwajahan tegas, wibawa, dan ksatria sedang dinantikan untuk beradu nyali, menghentikan dinasti mafia judol dan bekingnya.

Apakah langkahnya benar-benar nyata idealis, berapi-api seperti orasinya, atau?

Sampai saat ini, penulis masih dengan mudah menemukan banyak orang bermain slot di ponselnya. )* Sabrianoor, Wartawan Radar Sampit di Kuala Kapuas

Editor : Gunawan.
#judi online #Presiden Prabowo