radarasmpitjawapos.com- Wacana perubahan di dunia MotoGP kembali mencuat. Dikutip dari autosport.com, Liberty Media disebut-sebut ingin membawa konsep baru dengan meniru Formula 1, yakni mewajibkan setiap pabrikan memiliki pembalap cadangan permanen.
Untuk diketahui bahwa di F1, sistem ini sudah berjalan cukup lama. Setiap tim wajib memiliki pembalap cadangan yang siap menggantikan pembalap utama jika berhalangan tampil. Namun, ide serupa di MotoGP ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sejumlah pihak di paddock MotoGP justru meragukan wacana tersebut bisa benar-benar diterapkan dalam waktu dekat.
Bahkan, beberapa petinggi tim dan pembalap aktif sudah memberikan pandangannya terkait rencana ini.
Berikut tiga alasan utama mengapa MotoGP dinilai sulit menerapkan sistem pembalap cadangan permanen.
Sulit Cari Pembalap dengan Level Setara
Masalah pertama dan paling mendasar adalah kualitas pembalap. Di MotoGP, level kompetisi sangat tinggi dan ketat. Para pembalap reguler sudah berada di tingkat performa terbaik dunia.
Manajer tim Ducati Lenovo Team, Davide Tardozzi, menilai sulit menemukan 11 pembalap di luar grid yang benar-benar siap bersaing di level MotoGP secara konsisten.Bahkan pembalap yang kembali dari cedera pun sering butuh waktu untuk kembali ke performa terbaiknya.
Hal ini membuat posisi pembalap cadangan tidak bisa sekadar diisi oleh rider biasa. Mereka harus benar-benar siap tempur, bukan hanya “pengganti darurat”.
Risiko Pembalap Cadangan Hanya Jadi Penonton
Alasan kedua lebih ke aspek psikologis dan motivasi pembalap. Menurut pembalap Monster Energy Yamaha, Alex Rins, menjadi pembalap cadangan permanen bisa menjadi pengalaman yang tidak ideal.
Seorang pembalap harus terus bepergian ke berbagai sirkuit di seluruh dunia, namun belum tentu mendapatkan kesempatan balapan.
Baca Juga: Aleix Espargaro Alami Kecelakaan saat Tes Motor di Sepang
Dalam banyak kasus, mereka hanya akan berada di garasi tim sepanjang akhir pekan. Situasi ini tentu bisa membuat motivasi menurun, terutama bagi pembalap yang masih ingin aktif bersaing dan berkembang di lintasan.
Pembalap Top Lebih Memilih Kompetisi Aktif
Faktor ketiga adalah ketersediaan pembalap berkualitas dari ajang lain. Pembalap papan atas dari WorldSBK atau kejuaraan lain sebenarnya bisa saja dipanggil menjadi cadangan.
Namun, tantangannya adalah mereka juga memiliki target besar di kompetisi masing-masing. Banyak dari mereka yang lebih memilih fokus mengejar gelar juara di ajang utama ketimbang menjadi cadangan permanen di MotoGP.
Kondisi ini membuat opsi pembalap cadangan berkualitas tinggi menjadi semakin terbatas.
Wacana pembalap cadangan permanen di MotoGP memang menarik jika dilihat dari sisi profesionalisme dan kesiapan tim. Namun realitanya, ada banyak tantangan yang membuat konsep ini sulit diterapkan.
Mulai dari keterbatasan pembalap berkualitas, risiko motivasi rider cadangan yang menurun, hingga prioritas pembalap dari ajang lain yang lebih memilih kompetisi utama.
Untuk saat ini, MotoGP tampaknya masih akan bertahan dengan sistem pengganti sementara seperti test rider atau pembalap wildcard, yang sudah terbukti lebih fleksibel dengan kebutuhan tim.(an/ba/jpc)
Editor : Agus Jaka Purnama