Berawal dari Coba-Coba, Anak-Anak Sampit Mulai Jatuh Cinta pada Panjat Tebing

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 09:20 WIB
Seorang anak sedang menjajal olahraga panjat tebing di halaman Gedung Voli Indoor Jalan Tjilik Riwut, Sampit, Minggu (5/4/2026).  (Usay Nor Rahmat/Radar Sampit)
Seorang anak sedang menjajal olahraga panjat tebing di halaman Gedung Voli Indoor Jalan Tjilik Riwut, Sampit, Minggu (5/4/2026).  (Usay Nor Rahmat/Radar Sampit)

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Suasana berbeda terlihat di halaman Gedung Voli Indoor, Jalan Tjilik Riwut, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (5/4/2026). Sejumlah anak tampak asyik memanjat dinding buatan. Aktivitas yang awalnya sekadar coba-coba itu, kini mulai menumbuhkan ketertarikan serius terhadap olahraga panjat tebing.

Beberapa anak terlihat masih ragu saat pertama kali mencoba. Namun, dengan arahan dan pengawasan pelatih, mereka perlahan mulai percaya diri menggapai pijakan demi pijakan hingga mencapai ketinggian tertentu.

Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kotawaringin Timur Halikinnor, mengatakan pihaknya memang sengaja membuka ruang bagi anak-anak untuk mengenal olahraga tersebut sejak dini.

“Fokus kami sekarang bukan latihan khusus, melainkan memperkenalkan panjat tebing kepada anak-anak sebagai bagian dari upaya regenerasi atlet,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah atlet panjat tebing di Kotim saat ini masih terbatas, sehingga pengenalan sejak usia dini menjadi langkah penting untuk mencetak atlet masa depan.

Setiap akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu sore, FPTI Kotim membuka sesi latihan terbuka untuk umum. Dari kegiatan tersebut, mulai terlihat adanya ketertarikan anak-anak untuk menekuni olahraga panjat tebing.

“Yang datang coba-coba cukup banyak, tetapi yang mulai serius ada sekitar delapan hingga sepuluh anak. Bahkan, ada tiga anak yang sudah membeli perlengkapan panjat tebing dan rutin berlatih bersama kami,” ungkap Halikinnor.

Ia menjelaskan, usia ideal untuk mulai berlatih panjat tebing adalah di bawah delapan tahun. Dengan latihan yang konsisten, anak-anak berpeluang mengikuti kompetisi tingkat nasional saat menginjak usia 10 tahun.

“Di tingkat nasional sudah ada kategori usia 10 tahun. Karena itu, pembinaan harus dilakukan sejak dini agar mereka siap bersaing,” katanya.

Selain berpotensi melahirkan prestasi, panjat tebing juga memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak, seperti melatih kekuatan fisik, motorik kasar, serta keberanian.

Di sisi lain, FPTI Kotim juga tengah mendorong agar panjat tebing dapat masuk sebagai cabang olahraga dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Jika terwujud, peluang pelajar untuk berkompetisi sejak usia dini akan semakin terbuka.

“Rencananya panjat tebing akan dipertandingkan dalam O2SN. Kami masih memperjuangkan hal itu, dan keputusan akhirnya akan keluar dalam waktu dekat,” pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
panjat dinding panjat tebing sampit kotim kalteng