Radarsampit.jawapos.com – Insiden dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus meluas. Hingga Kamis (24/9/2026) pagi, jumlah korban diperkirakan mencapai sekitar 300 orang.
Membludaknya pasien membuat sejumlah fasilitas kesehatan di Batang dipadati korban. Sebagian pasien bahkan harus mendapat perawatan di lorong rumah sakit karena keterbatasan ruang perawatan.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan turun langsung meninjau kondisi korban di RSUD Kalisari, Kamis pagi. Ia memastikan seluruh fasilitas kesehatan di daerah tersebut dalam kondisi siaga untuk menangani lonjakan pasien.
“Kita ngecek kesiapan fasilitas kesehatan. Memang ada keterbatasan kamar, tetapi alhamdulillah semuanya mendapatkan bed. Obat-obatan dalam kondisi yang cukup, termasuk di puskesmas-puskesmas,” kata Faiz.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah pasien sebelumnya tercatat 276 orang pada sekitar pukul 03.00 WIB. Angka tersebut kemudian diperkirakan meningkat menjadi sekitar 300 orang pada pagi harinya.
Puluhan korban dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan. Di RSUD Kalisari tercatat 46 pasien, sedangkan RSUD Limpung menangani 41 pasien. Korban lainnya tersebar di sejumlah puskesmas.
“Usianya variatif, ada yang 10 bulan yang paling kecil, sampai dewasa dan bahkan usia senja. Keluhan mayoritas mereka adalah mual, muntah, diare, dan lemas,” ungkap Faiz.
Untuk mengantisipasi penambahan pasien, Pemkab Batang menyiagakan tenaga medis dan seluruh armada ambulans. Sistem pergantian jam kerja perawat juga ditiadakan sementara untuk memastikan tenaga kesehatan dapat menangani korban.
Pemkab Bantah Ada Korban Meninggal
Di tengah meningkatnya jumlah korban, beredar informasi mengenai adanya korban meninggal dunia. Namun, kabar tersebut dibantah langsung oleh Bupati Batang.
“Tidak ada. Tidak ada yang meninggal dunia,” tegas Faiz.
Pemerintah daerah juga memastikan seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung. Faiz menyebut kejadian tersebut sebagai kejadian luar biasa (force majeure).
Sementara itu, penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam penyelidikan. Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah mengambil sampel makanan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Makanan yang diduga menjadi sumber keluhan merupakan menu MBG yang dibagikan pada Selasa (22/9). Menu tersebut terdiri dari nasi putih, mix sayur, tahu mendoan, telur bolognese, dan anggur.
Keluhan mulai muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Warga dan siswa mengalami sejumlah gejala, seperti mual, pusing, muntah, diare, demam hingga lemas.
Investigasi juga diarahkan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan tersebut. Sejumlah relawan SPPG bahkan disebut ikut mengalami keluhan setelah mencicipi makanan.
Bupati Faiz mengatakan dirinya telah melaporkan kejadian tersebut kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Ia juga menyebut adanya arahan agar seluruh SPPG dimonitor dan diinvestigasi.
“Tadi pagi saya sudah telepon Pak Sudaryono dan menyampaikan laporan. Beliau berpesan tolong diaudit semaksimal mungkin, dan di semua SPPG dilakukan monitoring serta investigasi. Kalau direkomendasikan pemda untuk ditutup, dipastikan oleh Pak Kepala BGN untuk ditutup,” pungkasnya.
Sejumlah keluarga korban mengaku mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan MBG. Desi, 34, warga Desa Sokasari, misalnya, harus menjalani perawatan bersama dua anaknya.
“Makannya Selasa siang, mulai enggak enak perut sore hari. Gejalanya sama semua, pusing, muntah, diare, sampai panas,” tuturnya.
Ia mengaku ikut menyantap sisa telur dari porsi makanan anaknya. Saat dikonsumsi, makanan tersebut menurutnya tidak menunjukkan rasa yang mencurigakan.
Kasus serupa dialami Roman Arfani, 5, siswa TK B Kuncup Mekar. Ia mulai mengalami mual dan muntah hebat pada Selasa malam setelah menyantap makanan MBG pada pagi harinya.
Kasus ini masih dalam penanganan pemerintah daerah dan pihak terkait. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab dugaan keracunan massal tersebut. (jpg)
Editor : Slamet Harmoko