Tempe Tak Lagi Sekadar Pangan Rakyat, Kini Dibidik Pasar Global

Farid Mahliyannor • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 21:06 WIB

 

Ilustrasi tempe. (Dok. JawaPos)
Ilustrasi tempe. (Dok. JawaPos)

 

Radarsampit.jawapos.com - Tempe yang selama ini dikenal sebagai pangan rakyat memiliki potensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan menembus pasar global.

Pengembangannya membutuhkan dukungan riset, inovasi, industri, serta pemanfaatan biodiversitas Indonesia.

Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi mengatakan, ragi tempe perlu dilindungi sebagai aset kedaulatan biologis Indonesia.

Baca Juga: Aktivasi IKD di Kotim Baru 5,49 Persen, Jauh dari Target Nasional

Hal itu guna mencegah pencurian genetik (biopiracy), agar warisan peradaban itu bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat Indonesia tanpa hambatan pihak lain.

”Nah sekarang kita bicara tentang kedaulatan biologis bangsa, apa namanya Kapang rhizopus. Di era modern ini, nilai sama berharganya dengan cadangan sumber daya alam lain. Tugas kita adalah melindunginya,” kata Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani dilansir dari Antara.

Hal itu dia sampaikan dalam talkshow Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan.

Baca Juga: Gratis! BLK Kotim Buka Pelatihan 6 Kejuruan, Ini Cara Daftarnya

Salah satu inovasi ragi tempe dikembangkan tim periset Universitas Indonesia (UI) melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Kemendiktisaintek dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Ahmad mengatakan, kekayaan mikroba Indonesia merupakan bagian dari kekayaan biodiversitas nasional yang perlu dijaga, sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan.

Menurut dia, perlindungan terhadap kekayaan biologis tersebut penting agar hasil riset mengenai ragi unggul dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Komisi C DPRD Kobar Soroti Kendaraan ODOL Masuk Kota Pangkalan Bun

Dia berharap para peneliti dapat mengambil inisiatif lebih lanjut untuk mengintegrasikan hasil riset yang sangat sederhana ini menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi.

”Bayangkan dampaknya jika ragi unggul itu dikoneksikan dengan penurunan stunting misalnya gitu ya dari Kementerian Kesehatan dan disinergikan dengan kemandirian pangan dari Badan Pangan Nasional,” papar Ahmad Najib Burhani.

Dia juga mengapresiasi keterlibatan industri, yakni FKS, yang membantu menjadikan hasil riset sebagai produk yang bermanfaat bagi publik.

Baca Juga: Pelaku Usaha Apotek dan Toko Obat di Kotim Diingatkan Soal Legalitas

”Jadi ragi ini diuji dan disempurnakan langsung di dapur-dapur para pengrajin tempe. Inilah yang kemudian wajah sains yang ramah dan tidak angkuh dengan menempatkan perajin tradisional sebagai rekan sejajar dalam proses penciptaan atau co-creator. Inovasi ini dengan sendirinya melebur bersama masyarakat," ungkap Ahmad Najib Burhani.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Fauzan menyatakan, pengembangan tempe itu sejalan dengan konsep Dikti Saintek Berdampak.

Pihaknya mendorong hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat dan memberikan dampak ekonomi.

Baca Juga: Semarak Hari Pelanggan Nasional! PLN UP3 Pangkalan Bun Nyalakan Listrik Gratis

Periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI Wellyzar Sjamsuridzal menambahkan, riset ragi menjadi bagian dari upaya memahami dan menjaga biodiversitas mikroba Indonesia.

Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan.

”Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Wellyzar Sjamsuridzal.

Sementara itu, FKS Group menjadi mitra dalam pengembangan dan scale-up inovasi dari laboratorium menuju skala pilot dan industri.

Baca Juga: Sumber Air Bersih di Sungai Undang Mulai Asin

VP Commercial FKS Group Danar Samron mengatakan, proses hilirisasi membutuhkan pengujian, standardisasi, kesiapan produksi, keamanan pangan, serta keberlanjutan pasokan.

Pakar gastronomi dan chef Wira Hardiyansyah menyatakan, keragaman ragi dan praktik fermentasi merupakan bagian dari identitas kuliner Indonesia yang perlu dijaga sekaligus dikembangkan untuk memperkenalkan kekayaan rasa Nusantara ke dunia.

Melalui kolaborasi tersebut, tempe diharapkan tidak hanya menjadi pangan sehari-hari, tetapi juga menjadi contoh bagaimana biodiversitas, sains, teknologi, dan industri dapat menghasilkan inovasi pangan bernilai tambah serta berpotensi menembus pasar global. (jpg)

Editor : Farid Mahliyannor
tempe pangan rakyat asli indonesia produk lokal pasar global