Radarsampit.jawapos.com - Harga minyak mentah dunia kompak naik pada perdagangan Kamis (23/7) ditengah konflik yang kian memanas di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Melansir Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,84 poin atau 1,97 persen ke level 95,85 dollar per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,32 poin atau 1,52 persen ke level 88,16 dollar per barel.
Dilansir CNBC Internasional, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut Iran tidak menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman akan menyerang jembatan dan pembangkit listrik di Iran apabila Teheran menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Filipina, Rubio mengatakan Washington masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
"Amerika Serikat ingin mencapai penyelesaian secara diplomatik. Kami ingin mencapai kesepakatan jika hal itu memungkinkan dengan Iran. Namun, pihak Iran tampaknya tidak benar-benar serius untuk mencapai sebuah kesepakatan," ujar Rubio.
Rubio mengatakan, Iran telah membuat komitmen dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang disepakati bulan lalu. Namun, menurutnya, komitmen tersebut justru dilanggar hanya dalam waktu dua pekan.
"Iran membuat komitmen dalam nota kesepahaman yang dicapai bulan lalu, tetapi dalam waktu dua minggu mereka telah melanggarnya," ujar Rubio.
Baca Juga: Tolak Rujuk Berujung Ancaman? Perempuan Minta Perlindungan Polisi
Ia menegaskan militer Amerika Serikat akan terus menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
"Kami akan terus melindungi jalur pelayaran. Kami juga berharap negara-negara lain bergabung dalam upaya tersebut. Presiden memiliki banyak pilihan jika mereka terus memilih untuk tidak bekerja sama," katanya.
Serangan terbaru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania menewaskan setidaknya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya. Militer Amerika terlihat menyerang lebih banyak target di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya.
Baca Juga: Geger di Kebun Sawit! Karyawan Ditemukan Meninggal, Polisi Selidiki Penyebabnya
Pertempuran masih berfokus pada kendali atas Selat Hormuz, dengan CENTCOM menyatakan bahwa serangan terbarunya bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di Hormuz.
Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan AS-Iran terburuk sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak yang kini tampak sepenuhnya runtuh.
Pengiriman melalui Hormuz masih sebagian besar terganggu dan kembali hanya mencapai sebagian kecil dari level sebelum perang, membuat pasar tetap waspada terhadap gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan memperhitungkan premi risiko yang lebih besar ke dalam komoditas tersebut. (jpg)
Editor : Farid Mahliyannor