Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Bursa Ketum PBNU Menghangat, Gus Hery Haryanto Azumi Dapat Sinyal Positif dari Pengasuh Ponpes Al Falah Ploso

Slamet Harmoko • Senin, 22 Juni 2026 | 08:40 WIB
Gus Hery Haryant Azumi. (Baju hijau). (Istimewa/Jawapos)
Gus Hery Haryant Azumi. (Baju hijau). (Istimewa/Jawapos)

 

Radarsampit.jawapos.com -  Bursa calon pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar Ke-35 kian menghangat.

Salah satu figur yang kini mulai mencuri perhatian adalah Gus Hery Haryanto Azumi, yang dinilai sebagai representasi kader muda dengan kombinasi latar belakang tradisi santri dan jaringan internasional.

Sinyal positif bagi Gus Hery mengemuka saat dirinya bersama sejumlah tokoh dan akademisi muda NU melakukan silaturahim ke Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6).

Dalam kunjungan yang merupakan bagian dari rangkaian silaturahim kebangsaan menjelang Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional Ulama tersebut, mereka diterima langsung oleh pengasuh pesantren, KH Fahim Royani (Gus Fahim).

Gus Fahim menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para intelektual muda NU. Ia menegaskan bahwa dalam memasuki abad kedua, NU sangat membutuhkan modal sumber daya manusia yang berkualitas untuk menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks.

"NU membutuhkan pemimpin yang lahir dari tradisi santri, memahami pesantren, tetapi sekaligus mengerti politik, ekonomi, hubungan internasional, perkembangan teknologi, dan memiliki jejaring global yang kuat," ujar Gus Fahim.

Lebih lanjut, Gus Fahim mengaku optimistis setelah mengetahui kesiapan Gus Hery untuk ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 mendatang. Menurutnya, kehadiran Gus Hery dapat membawa energi positif sekaligus menjadi figur pemersatu organisasi.

"Kita membutuhkan pemimpin yang datang bukan membawa konflik, melainkan membawa semangat persatuan dan pengabdian. Siapa pun yang mengemban amanah memimpin NU harus memegangnya dengan keyakinan yang kuat, kesabaran yang panjang, ketulusan hati, serta kesiapan berkorban demi umat. Memimpin NU bukan soal jabatan, tetapi soal pengabdian," tegas Gus Fahim sembari berpesan agar langkah tersebut dilandasi niat yang lurus.

Menanggapi restu dan harapan dari pengasuh salah satu pesantren berpengaruh di Jawa Timur tersebut, Gus Hery menjelaskan bahwa keputusannya untuk maju dalam bursa kepemimpinan PBNU bukanlah langkah yang diambil secara mendadak.

Mantan Ketua Umum PB PMII ini mengungkapkan bahwa langkah politiknya digerakkan oleh wasiat dari para tokoh senior NU terdahulu, di antaranya almarhumah Lily Wahid dan almarhum KH Hasyim Wahid (Gus Iim).

"Saya masih ingat betul nasihat almarhumah Bu Lily Wahid dan Gus Iim beberapa tahun lalu. Mereka pernah berpesan kepada saya, 'Suatu saat kamu harus berkhidmat dengan sungguh-sungguh dan ikhlas untuk NU.' Pesan itulah yang saya pegang hingga hari ini," pungkas Gus Hery.

Peta persaingan menuju kursi nomor satu di PBNU diprediksi akan semakin dinamis. Sebelum munculnya nama Gus Hery, sejumlah figur kuat lainnya seperti Menteri Agama Nasaruddin Umar juga telah mendapat dukungan untuk maju sebagai calon Ketua Umum, bersanding dengan KH Said Aqil Siradj yang dicalonkan sebagai Rais Aam. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#Gus Hery Haryanto Azumi #muktamar nu #pbnu