Radarsampit.jawapos.com - Film dokumenter Pesta Babi–Kolonialisme di Zaman Kita kini resmi dapat disaksikan masyarakat luas secara gratis melalui kanal YouTube JubiTV.
Film yang menyoroti perjuangan Masyarakat Adat Papua itu sebelumnya telah diputar secara mandiri di ribuan titik nonton bareng (nobar) di berbagai daerah dan memicu diskusi publik luas.
Peluncuran digital film dilakukan di aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia, Jayapura, Papua. Publikasi resmi dilakukan langsung oleh Vincen Kwipalo, salah satu narasumber adat dalam film tersebut.
Yuliana Lantipo dari Jubi Media mengatakan film tersebut pertama kali diputar di Papua pada awal Maret sebelum menyebar ke berbagai kota melalui inisiatif masyarakat sipil.
“Film ini pertama kali diputar ‘di rumahnya’ di Papua pada awal Maret lalu, sebelum berkelana menjumpai banyak penonton karena inisiatif mandiri dan penuh nyali dari para penyelenggara nobar di berbagai tempat,” ujarnya.
Dokumenter ini digarap oleh sutradara Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Jehan Paju Dale.
Produksi film melibatkan kolaborasi sejumlah organisasi seperti Watchdoc, Greenpeace Indonesia, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, Ekspedisi Indonesia Baru, dan Jubi Media.
Film tersebut mengangkat isu dugaan eksploitasi alam, perampasan tanah adat, hingga dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) pangan dan energi di Papua Selatan yang disebut mengancam wilayah adat suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu.
Selama masa pemutaran mandiri sejak 12 April lalu, antusiasme publik disebut sangat tinggi dengan lebih dari 15 ribu pendaftar nobar. Namun, tim produksi juga mengklaim terjadi pembubaran dan intimidasi di puluhan titik pemutaran.
“Masih ada keberanian untuk tetap duduk bersama, berdiskusi, dan merawat solidaritas di ruang-ruang yang tidak selalu aman,” kata Direktur Ekspedisi Indonesia Baru, Susi Haryanti.
Selain itu, film tersebut juga sempat mengalami pembajakan digital. Tim produksi mencatat sedikitnya 150 akun YouTube mengunggah ulang versi penuh film tanpa izin sebelum akhirnya diturunkan karena pelanggaran hak cipta.
Vincen Kwipalo, tokoh adat yang terlibat dalam film, menegaskan perjuangan masyarakat adat Papua akan terus dilakukan demi mempertahankan ruang hidup mereka.
“Saya sudah komitmen sampai kapan pun, sampai titik darah penghabisan, apa pun, saya akan berjuang,” katanya.
Sementara itu, pihak kolaborator berharap penayangan gratis di platform digital dapat menjadi pemantik konsolidasi gerakan sipil dan memperluas diskusi publik mengenai situasi di Papua.
Film dokumenter Pesta Babi kini resmi merambah ranah digital melalui kanal YouTube JubiTV atau mengunjungi link https://youtu.be/MpdrWgDRVf8?si=ScdtG_PqSBTw_ge_
Editor : Slamet Harmoko