Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Rupiah Terus Melemah, Masuk 5 Mata Uang Terlemah di Dunia

Farid Mahliyannor • Rabu, 20 Mei 2026 | 19:46 WIB
mata uang Rupiah terlemah di dunia/AI
mata uang Rupiah terlemah di dunia/AI

 

Radarsampit.jawapos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan berdasarkan daftar mata uang terlemah di dunia yang dirilis Forbes Advisor per awal Mei 2026, rupiah Indonesia kini berada di posisi kelima mata uang dengan nilai tukar terendah terhadap dolar AS.

Dalam daftar tersebut, nilai tukar rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.420 per dolar AS. Posisi Indonesia berada di bawah Kip Laos, Dong Vietnam, Pound Lebanon, dan Rial Iran yang menjadi mata uang terlemah di dunia.

Pelemahan rupiah ini memicu kekhawatiran berbagai kalangan karena dampaknya mulai terasa pada harga kebutuhan masyarakat. Kenaikan harga barang impor hingga bahan baku industri disebut menjadi salah satu efek yang paling cepat dirasakan.

Baca Juga: Pengelola THM Bantah Jadi Lokasi Duel Berdarah di Sampit: 'Di Luar Area Pengawasan Manajemen'

Ekonom Senior Dahlan Tampubolon menilai kondisi saat ini merupakan bentuk inflasi dorongan biaya atau cost-push inflation. Menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah menyebabkan biaya impor berbagai kebutuhan meningkat sehingga harga barang di dalam negeri ikut terdorong naik.

“Sebagian besar bahan baku industri di Indonesia masih bergantung pada produk impor. Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, maka biaya produksi otomatis ikut meningkat,” ujarnya.

Dahlan menjelaskan, berbagai sektor mulai merasakan dampak dari penguatan dolar AS. Barang-barang seperti pupuk, pakan ternak, obat-obatan, hingga bahan baku industri mengalami kenaikan harga karena transaksi pembeliannya menggunakan dolar AS.

Baca Juga: Jelang Iduladha, Pemkab Kotim Gelar Gerakan Pangan Murah di Sampit

Akibat kondisi tersebut, pelaku usaha tidak memiliki banyak pilihan selain melakukan penyesuaian harga jual kepada masyarakat. Jika harga tidak dinaikkan, maka operasional usaha berpotensi terganggu karena biaya produksi terus membengkak.

“Kenaikan harga yang mulai dirasakan masyarakat saat ini sebenarnya merupakan efek berantai dari pelemahan rupiah. Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan akan berusaha menjaga keberlangsungan usaha dengan menaikkan harga barang atau jasa,” jelas Dahlan.

Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi global, termasuk tingginya suku bunga AS dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Situasi tersebut membuat investor lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS yang dianggap lebih aman.

Baca Juga: PT SINP-PBNA Tanggap Bencana, Bantuan Sembako Mengalir untuk Warga Terdampak Banjir Arut Utara

Di sisi lain, pelemahan rupiah dikhawatirkan dapat menekan daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam jangka panjang. Sebab, kenaikan harga kebutuhan pokok maupun barang penunjang produksi akan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga.

Pemerintah dan Bank Indonesia pun diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar serta memperkuat ketahanan ekonomi domestik agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. (*/jpg)

Editor : Farid Mahliyannor
#urutan 5 dunia #rupiah #mata uang #melemah