Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tren Freestyle Makan Korban, Dua Bocah Tewas Diduga Tiru Konten Medsos

Slamet Harmoko • Kamis, 7 Mei 2026 | 09:27 WIB

 

Ilustrasi free style anak, tidak untuk ditiru (AI)
Ilustrasi free style anak, tidak untuk ditiru (AI)

Radarsampit.jawapos.com – Fenomena konten digital berbahaya kembali memakan korban jiwa. Tren freestyle yang ramai di media sosial diduga menyebabkan dua anak di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia akibat cedera leher setelah meniru aksi berbahaya tersebut.

Korban pertama berinisial F, seorang siswa taman kanak-kanak (TK), meninggal dunia setelah mengalami cedera fatal pada tulang leher. Korban diduga meniru aksi salto atau freestyle yang sering muncul di media sosial.

Peristiwa serupa juga menimpa Hamad Izan Wadi (8), siswa kelas 1 SDN 3 Lenek, Lombok Timur. Bocah tersebut meninggal dunia setelah mengalami patah leher usai melakukan aksi freestyle yang diduga terinspirasi dari game online Garena Free Fire.

Kasi Humas Polres Lombok Timur Iptu Lalu Rusmaladi membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan aksi freestyle itu sebenarnya terjadi beberapa waktu lalu di rumah korban.

“Peristiwa freestyle-nya sudah lama. Korban sempat dirawat di RS Selong, selanjutnya dibawa ke RSUD Mataram dan meninggal dunia,” ujarnya, Selasa (5/5).

Pihak kepolisian juga telah meminta keterangan dari keluarga korban terkait kejadian tersebut. Diketahui, kedua orang tua korban bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

“Iya, orang tua korban merupakan TKI yang bekerja di luar negeri. Kami mengimbau masyarakat untuk memantau anak-anak agar tidak melakukan hal-hal tersebut,” ungkapnya.

Tragedi ini memicu keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur. Kepala Dinas Pendidikan Lombok Timur, M Nurul Wathoni, mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh sekolah dan UPTD terkait pembatasan penggunaan telepon genggam bagi siswa.

“Kami sudah membuat surat edaran ke seluruh sekolah dan UPTD agar ada pembatasan penggunaan handphone bagi siswa. Kami juga minta dukungan orang tua untuk mengawasi anak-anak. Kejadian ini harus menjadi pelajaran agar semua pihak berkolaborasi mengontrol perilaku siswa di luar sekolah,” katanya.

Kasus ini menjadi pengingat serius mengenai dampak konten digital terhadap perilaku anak-anak. Minimnya pengawasan penggunaan gawai dan akses bebas terhadap konten media sosial dinilai dapat memicu anak meniru aksi berbahaya tanpa memahami risikonya. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#lombok timur #free style #leher patah #konten medsos #anak