Radarsampit.jawapos.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk melanjutkan transformasi infrastruktur dengan memprioritaskan pembangunan jaringan Kereta Api (KA) di luar Pulau Jawa, meliputi Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Langkah strategis ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya fundamental untuk menurunkan biaya logistik nasional yang selama ini masih menjadi beban bagi dunia usaha.
Pembangunan KA lintas pulau dipandang sebagai solusi jangka panjang atas tingginya ketergantungan pada transportasi jalan raya.
Baca Juga: Kios Burung Menjamur di Sampit, BKSDA Perketat Pengawasan Satwa Dilindungi
Berdasarkan analisis sektoral, ketergantungan pada truk logistik tidak hanya memicu kemacetan, tetapi juga meningkatkan biaya perawatan jalan dan degradasi lingkungan.
Dengan hadirnya konektivitas berbasis rel, efisiensi waktu dan biaya angkut barang diharapkan dapat turun secara signifikan.
Dalam implementasinya, pemerintahan era Prabowo ditantang untuk menggabungkan dua kekuatan kepemimpinan sebelumnya, ketajaman perencanaan berbasis data era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kecepatan eksekusi era Joko Widodo (Jokowi).
Baca Juga: Dituding Serobot Lahan Koperasi, Seperti Ini Penjelasan PT AJP
Prinsip cepat tetapi benar menjadi landasan agar proyek ini tidak hanya berhenti sebagai arsip perencanaan, namun juga terintegrasi secara sistemik dengan kawasan industri dan pelabuhan.
Dari sisi pendanaan, badan pengelola investasi Danantara diharapkan memainkan peran sentral sebagai instrumen pembiayaan inovatif.
Skema investasi ini dirancang untuk membuka ruang bagi keterlibatan sektor swasta nasional maupun global, sehingga pembangunan tidak sepenuhnya membebani APBN secara berlebihan.
Baca Juga: Realisasi PKB Kotim Belum Capai Target, DPRD Soroti Pelayanan dan Akses
Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan kini tengah mengorkestrasi kesiapan teknis agar jalur kereta api yang dibangun benar-benar menjadi urat nadi ekonomi, bukan sekadar proyek simbolik.
Jika berhasil, fase ini akan menjadi akselerasi konektivitas nasional yang mampu menyeimbangkan disparitas wilayah di Indonesia. (jpg)
Editor : Farid Mahliyannor