Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Indonesia Segera Punya Kapal Induk Pertama, 500 Prajurit TNI AL Disiapkan jadi Awaknya

Slamet Harmoko • Kamis, 26 Februari 2026 | 12:30 WIB
Asisten Operasi KSAL Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan (kanan). (TNI AL)
Asisten Operasi KSAL Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan (kanan). (TNI AL)
Radarsampit.jawapos.com - Indonesia segera mencatat sejarah baru dalam kekuatan maritimnya. Pemerintah memastikan proses hibah kapal induk milik Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi, terus berjalan dan akan menjadi kapal induk pertama yang dioperasikan TNI Angkatan Laut (TNI AL).

Sebagai langkah awal, TNI AL telah menyiapkan sekitar 500 prajurit untuk mengawaki kapal perang tersebut.

Informasi itu disampaikan Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan dalam dialog daring yang digelar kanal Semar Sentinel bertema Indonesia’s Blue Water Transition.

“Kebijakan pemerintah akan mengakuisisi (Kapal Induk Giuseppe) Garibaldi, TNI AL sudah siap. Terutama untuk pengisian personelnya, personelnya itu ada sekitar 500 pelaut yang harus mengawaki,” ujar Yayan, Kamis (26/2).

Siapkan Perwira hingga Infrastruktur Pangkalan

Ratusan personel tersebut terdiri atas perwira hingga prajurit dengan kompetensi khusus. Mereka diproyeksikan menjadi awak tetap kapal induk, termasuk unsur pendukung operasional.

Tak hanya sumber daya manusia, TNI AL juga mulai memetakan kesiapan infrastruktur pendukung. Mulai dari pangkalan, dermaga militer, hingga kemungkinan pemanfaatan dermaga pelabuhan sipil untuk mendukung operasional kapal induk tersebut.

“Bagaimana pangkalan siap, dermaga-dermaga Angkatan Laut, dermaga-dermaga pelabuhan sipil, dalam rangka men-support fasilitas Garibaldi,” jelas Yayan.

Kebutuhan logistik juga menjadi perhatian utama. Dengan jumlah awak mencapai 500 orang, belum termasuk penerbang dan personel pendukung lainnya, dukungan suplai dipastikan akan sangat besar.

Hibah Pemerintah Italia

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan) menegaskan bahwa kapal induk tersebut diperoleh melalui skema hibah antarpemerintah atau Government to Government (G to G) antara Indonesia dan Italia.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Rico Ricardo Sirait, menyatakan bahwa hibah tersebut merupakan wujud hubungan bilateral yang baik antara kedua negara.

“Garibaldi itu adalah hibah. Sehingga sifatnya hubungan antara dua negara, Government to Government (G to G) antara Indonesia dengan Italia,” ujarnya.

Meski berstatus hibah, Indonesia tetap harus menyiapkan anggaran untuk biaya pemeliharaan, perbaikan, dan retrofit sebelum kapal tersebut resmi dioperasikan TNI AL.

Difokuskan untuk Operasi Kemanusiaan

Menurut Kemhan, kapal induk tersebut akan difungsikan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Keunggulan Garibaldi terletak pada keberadaan helideck yang mampu menampung hingga enam helikopter atau lebih. Fasilitas ini dinilai sangat strategis dalam distribusi logistik dan personel saat terjadi bencana alam.

Rico mencontohkan, apabila kapal induk tersebut telah tersedia saat terjadi bencana besar di Sumatera, distribusi bantuan dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus bergantung pada pangkalan udara yang jauh dari lokasi terdampak.

“Kalau itu kemarin misalnya kita sudah punya pada saat bencana di Sumatera, mungkin akan memudahkan bagi helikopter dalam pendistribusian logistik, pendistribusian barang, manusia, dan sebagainya tanpa harus bolak-balik ke pangkalan atau lanud yang cukup jauh,” terangnya.

Dengan proses persiapan personel dan infrastruktur yang terus dimatangkan, kehadiran kapal induk pertama ini diproyeksikan menjadi tonggak penting transformasi Indonesia menuju kekuatan maritim blue water navy. (jpg)

 
 
 
Editor : Slamet Harmoko
#tni al #sampit #kotim #kapal induk