Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Gaspol Reformasi Pertanian, Indonesia Tembus Swasembada Pangan Dalam Setahun

Slamet Harmoko • Minggu, 11 Januari 2026 | 21:06 WIB

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman saat menggelar dialog dengan para pimpinan media di bawah payung Jawa Pos Group. (Aziz/Radar Bogor)
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman saat menggelar dialog dengan para pimpinan media di bawah payung Jawa Pos Group. (Aziz/Radar Bogor)

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan hanya dalam waktu satu tahun pada 2025 menjadi catatan sejarah baru sektor pertanian nasional.

Capaian ini sebelumnya diumumkan langsung Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan ke Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, Rabu, 7 Januari 2026.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut jauh melampaui target awal pemerintah yang sebelumnya dipatok selama empat tahun.

Hal itu disampaikannya saat berdialog dengan pimpinan Jawa Pos Group di kediamannya di kawasan Kalibata, Jakarta, Minggu, 11 Januari 2026.

Baca Juga: Fenomena Madden–Julian Oscillation Tingkatkan Potensi Hujan Lebat di Kalimantan Tengah

Swasembada pangan 2025 tercermin dari lonjakan produksi beras nasional yang mencapai 34,71 juta ton.

Angka tersebut meningkat sebesar 4,09 juta ton atau 13,36 persen dibandingkan produksi tahun 2024. Kenaikan ini menghasilkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton.

Dengan surplus tersebut, Indonesia tercatat tidak melakukan impor beras untuk kebutuhan konsumsi sepanjang tahun 2025.

Bahkan, produksi beras nasional tersebut diprediksi oleh Food and Agriculture Organization (FAO) sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Amran menegaskan, capaian ini bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari transformasi radikal dan strategi “gaspol” yang diterapkan Kementerian Pertanian. Ia membeberkan lima kunci utama keberhasilan swasembada pangan yang terealisasi lebih cepat dari target.

Baca Juga: Hasil Pertanian dari Sukamara Kini Lebih Mudah Dijual Keluar Daerah. Ini Pemicunya

Kunci pertama adalah deregulasi besar-besaran dengan memangkas birokrasi yang dinilai menghambat.

Kementan mencabut sebanyak 291 Peraturan Menteri Pertanian (Permentan). Dari jumlah tersebut, 15 Permentan disederhanakan menjadi satu aturan, disertai penyesuaian ratusan keputusan menteri untuk mempercepat investasi dan hilirisasi melalui pembentukan taskforce khusus.

Kunci kedua adalah pembenahan internal kementerian melalui penerapan sistem meritokrasi yang ketat. Dalam langkah ini, Amran melakukan mutasi, demosi, hingga pemecatan terhadap 192 pejabat yang dinilai tidak berkinerja baik atau bermasalah.

“Saya mau orang yang ingin berubah. Kalau usaha awalnya cuma satu, kita tambah sampai lima supaya target melompat tinggi,” tegasnya.

Kunci ketiga adalah penguatan pengawasan eksternal dengan menggandeng Satgas Pangan Polri untuk menindak mafia pangan.

Sepanjang 2024 hingga 2025, Satgas Pangan berhasil menangani 92 kasus, terdiri dari 46 kasus beras dan 27 kasus pupuk, serta menetapkan 76 tersangka.

Selain itu, izin 2.229 pengecer dan distributor pupuk nakal dicabut demi menjamin distribusi pupuk yang adil bagi petani.

Kunci keempat berupa efisiensi anggaran. Kementan memangkas biaya perjalanan dinas, seminar, dan rapat di hotel. Total efisiensi anggaran pada 2025 mencapai Rp3,8 triliun.

Baca Juga: Investor Korea Siap Kembangkan Pertanian Modern di Kotim, Nilainya Triliunan Rupiah

Dana hasil refocusing tersebut dialihkan langsung untuk kebutuhan petani, seperti pengadaan benih unggul, pompa air, dan alat mesin pertanian (alsintan).

Langkah ini berkontribusi pada peningkatan produksi beras dengan nilai ekonomi mencapai Rp17,89 triliun.

Kunci kelima adalah transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju modern berbasis mekanisasi.

Penggunaan teknologi pertanian modern diklaim mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil panen hingga 100 persen.

Selama dua tahun terakhir, Kementan telah menyalurkan 167.906 unit alsintan, termasuk pompa air.

Selain itu, perluasan lahan sawah baru melalui program food estate dilakukan secara masif, termasuk di Merauke dan Kalimantan Tengah yang kini telah memasuki masa panen.

Dampak positif kebijakan tersebut dirasakan langsung petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 mencapai angka 123,26, tertinggi dalam 33 tahun terakhir.

Sementara itu, stok beras Bulog per 31 Desember 2025 tercatat aman di angka 3,25 juta ton, level tertinggi sepanjang sejarah.

“Ke depan, Kementan tidak hanya fokus pada ketahanan pangan, tetapi juga mendukung kemandirian energi melalui program Biodiesel B50,” tutup Amran. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#swasembada pangan #menteri pertanian amran sulaiman