SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pertumbuhan coffee shop di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kian menjamur dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini bahkan membuat kota di tepian Sungai Mentaya tersebut mulai dijuluki sebagai kota seribu kafe, seiring banyaknya kedai kopi yang hadir dengan konsep beragam dan menyasar berbagai kalangan.
Menjamurnya kedai kopi tak sekadar mengikuti tren, tetapi juga menjadi penanda perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Kafe kini bukan hanya tempat menikmati minuman, melainkan ruang untuk bertemu, berdiskusi, bekerja, hingga menyalurkan kreativitas. Salah satu yang turut meramaikan geliat tersebut adalah Two Coffee, coffee shop yang berlokasi di Jalan S. Parman, tak jauh dari Taman Kota Sampit.
Owner Two Coffee, Wahyu, mengatakan kehadiran kedai kopi di Sampit didorong oleh kebutuhan masyarakat akan ruang nongkrong yang nyaman. Menurutnya, kebiasaan berkumpul di kafe kini menjadi bagian dari keseharian, khususnya generasi muda.
“Saya buka coffee shop ini tidak ada alasan yang terlalu khusus. Saya melihat masyarakat memang perlu tempat nongkrong. Sekarang zamannya nongkrong di kafe,” ujarnya, Sabtu (27/12).
Selain menjadi ruang sosial, keberadaan coffee shop juga berkontribusi membuka lapangan kerja.
Two Coffee sendiri mempekerjakan tiga orang pegawai, bahkan dari latar belakang tanpa pengalaman di dunia perkopian. Seluruh pegawai dilatih dari nol, mulai dari meracik, menyeduh, hingga menyajikan kopi.
“Dari yang awalnya tidak bisa jadi bisa. Ini sekaligus membangun anak-anak muda yang punya kemauan belajar dan skill,” katanya.
Meski baru menggelar grand opening pada Sabtu (27/12), Two Coffee sejatinya sudah mulai melayani pelanggan sekitar satu bulan sebelumnya. Respons masyarakat pun terbilang positif.
“Alhamdulillah, sambutannya baik. Mungkin karena lokasinya strategis, di tengah kota dan mudah ditemukan,” ujar Wahyu.
Untuk racikan kopi, Two Coffee menggunakan biji Arabika perpaduan Ijen dan Gayo yang diproses di Yogyakarta.
Karakter kopi dipilih karena memiliki cita rasa kuat dengan aroma buah seperti green apple, karamel, almond, hingga cokelat. Namun, Wahyu mengakui mayoritas pelanggan di Sampit lebih menyukai kopi susu.
“Target kami pelajar, mahasiswa, dan pekerja. Kopinya bisa dinikmati semua kalangan,” jelasnya.
Two Coffee membanderol harga minuman mulai Rp13 ribu hingga Rp25 ribu per cup. Menu andalan mereka adalah Americano Peach, sementara Butterscotch menjadi minuman yang paling diminati.
Selain kopi, tersedia pula minuman nonkopi seperti matcha, cokelat, red velvet, lychee tea, hingga air mineral.
Geliat usaha kedai kopi di Sampit juga ditopang oleh kolaborasi antarpelaku usaha. Salah satunya terlihat dari peran Ridwan Lazuardi, pemilik Tara Coffee, yang turut mengenalkan Wahyu pada dunia peracikan kopi.
Tara Coffee yang berlokasi di Jalan Kenan Sandan No. 54 menawarkan konsep berbeda, yakni sajian kopi yang lebih sehat. Ridwan menyebut seluruh racikan kopi di kedainya diolah tanpa tambahan gula dan krimer, sehingga aman dikonsumsi, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani program diet.
“Kopi yang kami sajikan tetap nikmat, tapi aman dikonsumsi. Racikannya juga bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan,” ungkap Ridwan.
Tara Coffee menyediakan beragam menu, mulai dari manual brewing seperti V60 hingga kopi kekinian dengan varian pandan, karamel, vanila, dan butterscotch. Pilihan biji kopi pun beragam, dari Papandayan Jawa Barat, Bali Kintamani, Aceh Gayo, Papua Wamena, hingga biji kopi eksotis lainnya. Untuk nonkopi, tersedia mocktail serta matcha dari jenis culinary hingga ceremonial.
Harga minuman di Tara Coffee dibanderol mulai Rp10 ribu hingga Rp30 ribu per gelas, dilengkapi pilihan camilan.
“Kami ingin memberikan pengalaman baru bagi penikmat kopi, dengan kebebasan mencampur biji dan sirup untuk mendapatkan rasa unik,” tuturnya.
Kehadiran Two Coffee dan Tara Coffee menambah panjang daftar coffee shop di Sampit, sekaligus memperkuat identitas kota ini sebagai ruang tumbuhnya budaya nongkrong dan kreativitas anak muda.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kopi kini bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari denyut sosial dan ekonomi perkotaan yang terus berkembang, ditopang kolaborasi dan semangat berbagi antar pelaku usaha. (yn)
Editor : Slamet Harmoko