Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pacu Hilirisasi Kelapa, Nilai Investasi Tembus Rp1,65 Triliun

Gunawan. • Senin, 1 Desember 2025 | 14:56 WIB
LANGKA: Pedagang Pasar Indrasari Pangkalan Bun membongkar kelapa yang didatangkan dari kabupaten Seruyan, Sabtu (15/3).
LANGKA: Pedagang Pasar Indrasari Pangkalan Bun membongkar kelapa yang didatangkan dari kabupaten Seruyan, Sabtu (15/3).

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah menegaskan program hilirisasi kelapa ditargetkan selesai pada 2025 dan dipandang sebagai salah satu penggerak baru bagi perekonomian nasional melalui peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja di daerah penghasil.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menyatakan, investasi yang telah masuk mencapai sekitar 100 juta dollar AS atau setara Rp1,65 triliun, sehingga diharapkan mampu mendorong pembangunan fasilitas pengolahan kelapa di beberapa sentra produksi.

”Nilai investasi hilirisasi kelapa yang sudah masuk mencapai 100 juta dolar AS,” ujar Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM.

Pemerintah juga memproyeksikan dampak pada lapangan kerja cukup besar. Proyek itu diyakini bisa menyerap antara 5.000-10.000 tenaga kerja pada fase-fase pengembangan pabrik dan rantai pasoknya.

”Penyerapan kerjanya bisa sampai 10.000 orang,” kata Rosan.

Salah satu investor utama yang disebut mendanai proyek adalah Zhejiang FreeNow Food Co., Ltd dari China yang dikenal memproduksi berbagai turunan kelapa.

Kehadiran investor asing itu dinilai memperkuat kapasitas pengolahan dalam negeri sehingga beban logistik ekspor bahan mentah bisa dipangkas dan memberi manfaat lebih besar kepada petani.

Dampak pada harga di tingkat petani sudah mulai terlihat di beberapa wilayah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan, saat kunjungan ke beberapa sentra, terdapat kenaikan harga kelapa bulat dari kisaran Rp600 per butir menjadi sekitar Rp3.500 per butir.

Pemerintah menargetkan potensi mencapai Rp6.000 per butir apabila rantai hilir berjalan optimal.

”Sekarang Rp3.500 per biji dan harga bisa terus meningkat hingga Rp6.000 per butir,” ujar Amran.

Pemerintah menekankan, meski nilai investasinya relatif lebih kecil dibanding proyek hilirisasi mineral, efeknya terhadap penyerapan tenaga kerja dan pemerataan ekonomi lokal dinilai signifikan karena industri pengolahan perkebunan cenderung lebih padat karya.

”Dari investasinya jika dibandingkan mineral memang jauh lebih kecil, tapi penyerapan kerjanya ini peningkatannya dari yang nonmineral,” kata Rosan. (*/ign)

Editor : Gunawan.
#hilirisasi kelapa #investasi