radarsampit.jawapos.com- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan bahwa bencana hidrometeorologi yang menimpa Sumatera Utara (Sumut) mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Ia mengungkapkan, hingga Minggu (30/11), tercatat sebanyak 217 jiwa dilaporkan meninggal dunia, sementara 209 orang lainnya masih hilang.
"Jadi korban jiwa untuk Sumatera Utara itu 217 jiwa yang meninggal dunia, kemudian 209 yang masih hilang," kata Suharyanto dalam konferensi pers secara daring, Minggu (30/11).
Ia menyebut, korban meninggal dunia dan hilang itu tersebar pada beberapa wilayah di Sumut yang terdampak bencana.
"Rinciannya ini semua untuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, itu yang mungkin bertambah daripada kemarin," ucapnya.
Suharyanto juga tak memungkiri, warga yang mengungsi terus bertambah. Hal ini seiring operasional dapur lapangan dan logistik yang mulai berdatangan. Suharyanto membeberkan data secara rinci warga yang mengungsi di sejumlah kabupaten/kota di Sumut.
"Sehingga jumlah pengungsi ini juga bertambah, yang pertama Tapanuli Utara, yamg kemarin dilaporkan 1.000-an KK perhari ini sudah mengungsi, hari ini sudah 3.600 jiwa," ungkapnya.
Sementara, di Tapanuli Tengah sebanyak 1.600 jiwa. Kemudian, di Tapanuli Selatan ini masih tersebar di 12 Kecamatan, per hari ini terdata ada 4.661 jiwa.
Selanjutnya, Kota Sibolga terdapat 4.456 jiwa mengungsi, Humbang Hasundutan ada 2.200 jiwa, dan Mandailing Natal ada 1.378 jiwa."Ini datanya sudah lebih rinci, bukan lagi KK, melainkan jiwa," pungkasnya.
Sebelumnya, BNPB menyiapkan nomor hotline khusus bagi masyarakat yang kesulitan menghubungi keluarga mereka di wilayah terdampak banjir di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Layanan ini menjadi perhatian utama BNPB di tengah sulitnya akses komunikasi akibat kerusakan jaringan dan terputusnya infrastruktur di banyak lokasi.
Hotline BNPB dapat dihubungi melalui 0811-6164-5500. Masyarakat cukup menyertakan data keluarga berupa nama, usia, jenis kelamin, alamat, serta lokasi terakhir, untuk membantu proses penelusuran. Data tersebut akan diteruskan kepada koordinator BNPB yang siaga di kabupaten dan kota terdampak guna dilakukan pengecekan langsung di lapangan.(muh/bin/jpc)
Editor : Agus Jaka Purnama