JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan pemerintah bukan hanya sebagai penanganan gizi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal yang signifikan.
Badan Gizi Nasional (BGN) dan pejabat terkait menyebut, MBG berpotensi meningkatkan permintaan bahan pangan lokal, menyuburkan usaha mikro, dan membuka lapangan kerja, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang optimistis terkait kontribusi program itu terhadap kinerja makro ekonomi.
”Kemarin kan pertumbuhan ekonomi ini kan 5,04% ya. Nah itu banyak didorong oleh faktor MBG,” ujar Nanik.
Dia juga merujuk pada estimasi internasional tentang nilai tambah rantai pasok MBG.
”PBB malah mengatakan juga bahwa dari sepiring nasi itu nilainya, di hilirnya, bisa sampai Rp385 ribu,” katanya.
Pernyataan-pernyataan tersebut dipakai BGN untuk memperkuat argumen bahwa program ini memberi efek berganda (multiplier) pada perekonomian.
Deputi BKPM Nurul Ichwan mengatakan, MBG telah berkontribusi pada pertumbuhan dan perputaran ekonomi domestik yang terlihat pada angka komponen konsumsi dan penyerapan produk lokal.
”Makan siang gratis yang nilainya luar biasa itu masuk ke dalam pasar dan faktanya itu memutar roda perekonomian, berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Nurul.
Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto juga mengangkat aspek penciptaan lapangan kerja dalam MBG.
Dalam pernyataan di forum internasional, Presiden Prabowo menjelaskan estimasi penyerapan tenaga kerja langsung.
Menurutnya, ada sekitar 30.000 dapur MBG yang masing-masing mempekerjakan sekitar 50 orang.
”Dengan program MBG ini saja, saya pikir pertumbuhan 8 persen sangat bisa dicapai dan program tersebut menciptakan 1,5 juta lapangan kerja,” katanya.
Di lapangan, BGN dan pemerintah daerah mendorong agar pasokan MBG melibatkan petani kecil UMKM dan koperasi, sehingga manfaat ekonomi tersalur ke tingkat lokal. (*/ign)
Editor : Gunawan.