TANGERANG SELATAN, radarsampit.jawapos.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai digulirkan pemerintah pada awal 2025 bukan hanya memberi asupan gizi bagi anak dan ibu hamil/menyusui.
Program itu juga membuka kesempatan kerja baru serta menggerakkan ekonomi lokal melalui penyerapan bahan pangan dari pasar rakyat.
Kebijakan tersebut telah menjangkau jutaan penerima manfaat sejak diluncurkan.
Fania Lingga (26), pekerja di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Khusus Tangerang Selatan menggambarkan perubahan signifikan dalam hidupnya setelah menjadi bagian tim MBG.
”Alhamdulillah saya merasa nyaman bekerja di sini. Tugasnya tidak terlalu berat dan suasananya seperti keluarga,” katanya.
Di sisi lain, Fania juga khawatir bila program dihentikan.
”Jika MBG harus berhenti, tentu saya sangat sedih; di sini saya memperoleh penghasilan yang sulit saya dapatkan di tempat lain,” ujarnya.
Penyelenggaraan MBG juga berdampak ke sisi permintaan bahan pangan. Pelaksanaan program meningkatkan pembelian kebutuhan harian seperti telur, sayur, ikan, dan daging ayam dari pemasok lokal, memberi pasar yang lebih pasti bagi petani dan peternak setempat.
Hal ini menjadi salah satu alasan pemerintah menyebut MBG mampu menggerakkan roda ekonomi tingkat desa dan kecamatan.
Presiden Prabowo Subianto menekankan dimensi ekonomi MBG selain tujuan kesehatan.
”Dengan program makan bergizi ini, pada Januari-Februari mendatang kita diperkirakan bisa membuka sekitar 1,5 juta lapangan kerja baru,” ujarnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada efek penyerapan suplai bahan pangan dan aktivitas di rantai pasok lokal yang meningkat akibat MBG.
Pencapaian jumlah penerima manfaat program juga dilaporkan meningkat seiring waktu.
Pada pertengahan 2025, sejumlah rilis pemerintah menyebut capaian program telah menyentuh puluhan juta penerima.
Meski manfaatnya besar, para pengamat mengingatkan pentingnya pengawasan mutu, transparansi penyaluran, dan keberlanjutan pendanaan agar program tidak menimbulkan masalah sanitasi, pemborosan anggaran, atau dampak fiskal yang tak terduga.
Implementasi yang rapi, dengan standarisasi dapur, monitoring kualitas makanan, dan keterlibatan rantai pasok lokal, dinilai penting agar tujuan kesehatan dan ekonomi tercapai tanpa efek samping negatif. (*/ign)
Editor : Gunawan.