Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Luas Areal Tanam Tembakau di Jawa Timur Turun

Farid Mahliyannor • Kamis, 21 Agustus 2025 | 21:11 WIB
KOMODITAS: Pengusaha Surabaya, Jawa Timur mengecek ladang tembakau. DOKUMEN/RADAR SAMPIT
KOMODITAS: Pengusaha Surabaya, Jawa Timur mengecek ladang tembakau. DOKUMEN/RADAR SAMPIT

Radarsampit.jawapos.com - Kondisi tambakau di sejumlah daerah di Jawa Timur mengalami penurunan areal tanam, bahkan juga penurunan harga.

Hal tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Timur, Muhdi, Rabu (20/8/2025).

"Selain itu kondisi cuaca yang tidak menentu juga berpengaruh terhadap perkembangan tanaman tembakau. Bisa dibilang kondisinya kurang begitu bagus," katanya.

Sebagai contoh, di Kabupaten Sampang, luas tanam tembakau tahun 2025 tercatat hanya 3.780 hektare.

Angka tersebut turun drastis dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 8.894 hektare.

Penurunan sekitar 57 persen ini diperkirakan terjadi akibat perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu.

Muhdi menjelaskan, untuk serapan dari perusahaan besar hingga saat ini belum ada.

Rencananya penyerapan tembakau oleh perusahaan itu baru akan terjadi akhir Agustus nanti.

“Sebenarnya untuk serapan tidak ada masalah, tapi masalah ada di Probolinggo,” lanjutnya.

Muhdi mengungkapkan, terjadi penurunan penyerapan tembakau di Probolinggo sejak tahun kemarin.

Di tahun yang sama, harga di tingkat petani di Probolinggo mengalami penurunnan drastis.

"Tembakau belum ada harga secara khusus, tapi harga mengacu pada harga tahun lalu, atau hasil musyawarah bersama," jelasnya.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan berencana untuk memberlakukan penyeragaman kemasan rokok tanpa identitas merek alias kemasan rokok polos.

Menurut Muhdi penyeragaman itu jelas memberikan pengaruh yang luar biasa. "Kalau blank packaging, sama saja beli kucing dalam karung,” tegasnya.

Muhdi menambahkan, terkait kenaikan tarif cukai ini menyebabkan penyerapan tidak maksimal.

Imbasnya penerimaan cukai turun karena banyaknya peredaran rokok ilegal.

“Ini merugikan negara dan perusahaan rokok. Kalau dari sisi petani saya rasa kok tidak ya, karena rokok masih berbahan dasar tembakau, tentu petani tidak rugi," pungkasnya. (mus/opi)

 

Editor : Farid Mahliyannor
#tanaman #tembakau #komoditas #rokok #pertanian