Sebagai suami, Samuel Hutabarat mendampingi Rosti. Mereka berdua didampingi oleh satu kakak dan dua adik Brigadir Yosua. Selain itu, ada adik-adik Rosita dan kerabat Samuel yang turut serta menyaksikan proses ekshumasi. Mereka pun ikut mendoakan mendiang Yosua sebelum diangkat dari pemakamannya. Doa bersama berlangsung mulai pukul 06.50. Ibadah kebaktian menjelang pengangkatan jenazah dipimpin oleh pendeta yang sudah disiapkan oleh keluarga.
Meski singkat, doa bersama itu berlangsung khidmat. Serupa keluarga lainnya, Rosti tampak berusaha tegar. Namun, benteng ketegaran yang dia jaga ketat tidak sanggung membendung gempuran duka. Menjelang doa bersama selesai, dia tumbang. Tubuhnya seketika lemas. Dia hanya bisa berteriak histeris. ”Tolong kami Yesus, tolong keadilan untuk anakku ini,” ratapnya. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rosti.
Ibu empat anak itu tidak kuasa menahan duka. Kehilangan anak laki-laki yang begitu dia sayangi. Adik Brigadir Yosua berusaha menenangkan sang ibunda. Namun kesedihan yang begitu dalam membuat Rosti terus menjerit. Berbagai kalimat permohonan dan permintaan pertolongan keluar dari mulut guru SD di Muaro Jambi tersebut.
”Tolong kami, tunjukkan kebenaran untuk anakku ini. Pak Presiden Jokowi, dengar ratapan anakku yang terakhir,” pintanya. Rosti tidak berhenti meracau.
Di antara deras air mata yang berjatuhan, mulutnya tidak henti berucap. Dia menunjukkan betapa dirinya tidak terima dan tidak percaya atas informasi terkait dengan sebab-musabab meninggalnya Brigadir Yosua akibat baku-tembak.
”Anakku menderita difitnah, disiksa, dianiaya. Ohhh tolong panglima TNI. Bantu kami,” pintanya. Serupa dengan seluruh keluarga lainnya, Rosti ingin kasus yang menyeret nama Irjen Ferdy Sambo itu diselesaikan.
Lemas tubuhnya, kalut pikirannya, tidak lantas membuat Rosti lupa. Bahwa Yosua adalah anak yang begitu dia kasihi. Dia didik, dia bersarkan dengan penuh kasih sayang. Hingga bisa menjadi seorang abdi negara di tubuh Polri.
”Aku mengandung, mengasuh anakku. Tulus, tulus anakku lakukan tugas. Tolong bantu, tolong anakku,” imbuhnya. Jeritan Rosti di proses ekshumasi menunjukkan betapa dirinya masih sangat terluka.
Hanya suami, anak, dan keluarga dekat yang bisa menjadi penguat. Menjadi pelipur lara bagi Rosti. Roslin Simanjuntak, adik Rosti, mengaku bahwa ibunda Yosua itu yang paling terakhir mengetahui temuan sejumlah luka di tubuh Yosua. Keluarga besarnya sepakat tidak memberitahu Rosti. ”Kami menjaga, karena ibunya (Brigadir Yosua) masih syok,” imbuhnya. Namun, tetap saja Rosti akhirnya tahu. Dia mendengar dan melihat berita.
Dari sana Rosti kemudian bertanya. Benarkah luka-luka itu ada? ”Baru dua hari (sebelum ekshumasi) kami lihatkan. Nangis lah dia,” ucap Roslin. Sebelumnya, Rosti hanya melihat luka-luka yang ada di wajah Yosua. Dia tidak melihat langsung luka-luka lain di tubuh putra kedua dari empat bersaudara itu. Tidak heran, begitu tahu pikirannya langsung ke mana-mana. Dia yakin Yosua tidak meninggal dunia akibat baku-tembak.
Tidak hanya ketika ekshumasi berlangsung, setelah otopsi dilakukan dan jenazah akan dimakamkan kembali, Rosti lagi-lagi histeris. Pun demikian saat pemakaman Yosua dilakukan kemarin sore. Rosti kembali berteriak dan meminta tolong agar peristiwa yang menyebabkan putranya meninggal dunia diungkap sampai tuntas. Serupa Rosti, adik bungsu Yosua yang juga berdinas di Polri tidak kuasa menahan air mata. Dalam proses pemakaman itu, sang adik tampak menitikkan air matanya. (syn/jpg) Editor : Administrator