Carbon Farming Dinilai Berpotensi Cegah Kebakaran Gambut

Heru Prayitno • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:56 WIB
Dr. Joni menunjukkan lokasi uji coba carbon farming di lahan konservasi gambut milik SMA Muhammadiyah Sampit.
Dr. Joni menunjukkan lokasi uji coba carbon farming di lahan konservasi gambut milik SMA Muhammadiyah Sampit.

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendorong perlunya upaya pengelolaan lahan yang mampu menjaga kelembapan tanah sekaligus mengurangi risiko kebakaran berulang. Salah satu pendekatan yang dikaji adalah carbon farming atau pertanian karbon berbasis pengelolaan lahan gambut.

Pakar gambut Dr. Joni dari SMA Muhammadiyah Sampit melakukan kajian terhadap kondisi lahan gambut pascakebakaran. Kajian tersebut menyoroti potensi karbon pada lahan gambut yang terbakar serta pentingnya pengelolaan lahan untuk mendukung kesuburan tanah dan menjaga ketersediaan air.

Menurut Joni, proses kebakaran pada lahan gambut dapat dikaitkan dengan proses karbonisasi. Namun, potensi yang terkandung dalam proses tersebut perlu dikelola dengan tepat agar tidak terbuang sia-sia dan justru menimbulkan dampak lingkungan yang lebih besar.

Ia menjelaskan, material hasil pembakaran yang tersisa di lahan berpotensi memengaruhi kondisi tanah. Dalam pengelolaan tertentu, material karbon dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah untuk mendukung aktivitas mikroorganisme.

Mikroorganisme tanah berperan penting dalam proses penguraian bahan organik dan siklus unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Aktivitas biologis tersebut dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah, terutama ketika ketersediaan air kembali meningkat pada musim hujan.

Selain material yang tersisa di lahan, Joni menilai asap hasil pembakaran juga mengandung senyawa yang berpotensi dimanfaatkan melalui proses pengolahan. Di antaranya adalah asap cair yang dapat dikembangkan untuk berbagai keperluan pertanian, termasuk sebagai bahan pestisida nabati, bergantung pada komposisi dan hasil pengujiannya.

Produk lain yang dapat dikembangkan ialah pupuk cair untuk menunjang kebutuhan nutrisi tanaman. Namun, pemanfaatan asap dan residu pembakaran tersebut memerlukan teknologi pengolahan yang tepat agar aman dan efektif.

Joni menekankan, konsep carbon farming yang dikembangkan melalui pengelolaan lahan gambut tidak cukup hanya mengandalkan karbonisasi. Diperlukan pendekatan tambahan untuk menjaga kelembapan tanah dan memastikan kawasan gambut tidak mudah terbakar kembali.

Uji Coba di Lahan Konservasi

Salah satu upaya yang menjadi perhatian ialah uji coba carbon farming di lahan konservasi gambut milik SMA Muhammadiyah Sampit yang bekerja sama dengan PT Gunung Gajah Abadi dari Samarinda.

Berdasarkan hasil pengamatan yang disampaikan Joni, lahan uji coba tersebut dinilai mampu mempertahankan kelembapan tanah dalam jangka panjang. Meski permukaan lahan mengering saat musim kemarau, bagian bawah tanah tetap basah sehingga dinilai berpotensi mengurangi risiko kebakaran gambut.

Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan gambut. Sebab, kebakaran pada ekosistem gambut dapat berlangsung di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan apabila lapisan gambut mengering.

Pengelolaan air menjadi faktor penting untuk mencegah kondisi tersebut. Karena itu, upaya mempertahankan kelembapan gambut perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan karhutla, disertai pemantauan berkala dan pengelolaan vegetasi yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Meski demikian, efektivitas metode carbon farming dalam mencegah kebakaran perlu terus dievaluasi melalui pemantauan jangka panjang dan pengukuran yang terukur. Hasil uji coba di lahan konservasi juga perlu dikaji lebih lanjut sebelum diterapkan secara luas di kawasan gambut Kotim.

Di tengah ancaman karhutla, pendekatan pengelolaan gambut yang mampu menjaga cadangan air, memperbaiki kondisi tanah, dan mengurangi risiko kebakaran berulang menjadi salah satu aspek yang layak dikembangkan. Upaya tersebut perlu berjalan seiring dengan pencegahan kebakaran, pemulihan ekosistem, serta perlindungan kawasan gambut dari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

 

Editor : Heru Prayitno
Carbon Farming Dr. Joni gambut