SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kabut asap masih menjadi bagian dari kondisi cuaca di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (1/10/2026). Jarak pandang di kawasan kota sempat terbatas hingga hanya 500 meter pada pagi hari.
Berdasarkan pemantauan BMKG Kotim di Stasiun Meteorologi H Asan, kondisi tersebut terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, suhu udara 27,3 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 86 persen.
Jarak pandang perlahan membaik menjadi 700 meter pada pukul 09.00 WIB dan 800 meter satu jam berikutnya. Kondisi tersebut belum sepenuhnya terbebas dari kabut asap.
Pada pukul 11.00 WIB, jarak pandang sempat mencapai 1 kilometer. Namun, kondisi kembali memburuk pada tengah hari. Pukul 12.00 WIB, jarak pandang turun menjadi 600 meter.
Perubahan tersebut terjadi bersamaan dengan dinamika arah dan kecepatan angin. Sepanjang pagi hingga siang, kecepatan angin yang tercatat berkisar 4 hingga 9 kilometer per jam.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim, Mulyono Leo Nardo, mengatakan kondisi angin memiliki pengaruh terhadap pergerakan asap yang menyelimuti Sampit.
Menurutnya, asap dari kawasan selatan dapat terbawa menuju kota ketika angin pada malam hari menguat. Namun, situasinya berubah ketika memasuki pagi hingga siang.
“Pada malam hari, angin bisa lebih aktif sehingga asap dari selatan terdorong ke arah Sampit. Ketika pagi dan siang angin melemah, asap yang sudah masuk justru cenderung bertahan di dalam kota,” jelas Mulyono.
Ia mengatakan kemampuan angin dalam membawa asap juga sangat bergantung pada kecepatannya. Angin yang cukup kuat lebih memungkinkan menggeser massa asap dari satu wilayah ke wilayah lain.
“Kalau kecepatannya sudah di atas 15 kilometer per jam, peluang asap terbawa dari wilayah selatan ke Sampit lebih besar,” ujarnya.
Sebaliknya, angin yang bergerak lambat tidak cukup kuat untuk mengurai atau mendorong asap keluar dari kawasan perkotaan.
“Ketika angin hanya sekitar 0 sampai 5 atau 6 kilometer per jam, pergerakan asap menjadi tidak signifikan. Itu sebabnya asap bisa bertahan di wilayah kota,” tambahnya.
Kondisi ini membuat kualitas udara dan jarak pandang di Sampit dapat berubah dalam waktu singkat. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diimbau memperhatikan perkembangan kondisi udara dan jarak pandang. (oes)
Editor : Slamet Harmoko