Dari Gelombang ke Bara, Pasukan Polisi Air Jinakkan Karhutla di Daratan Kalteng

Fahry Ilhami Samosir • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:50 WIB

KARHUTLA : Direktur Polairud Polda Kalteng Kombes Pol Dony Eka Putra terjun ke lokasi kebakaran di Palangka Raya, belum lama tadi. FOTO: IST/RADAR SAMPIT
KARHUTLA : Direktur Polairud Polda Kalteng Kombes Pol Dony Eka Putra terjun ke lokasi kebakaran di Palangka Raya, belum lama tadi. FOTO: IST/RADAR SAMPIT

 

Radarsampit.jawapos.com - Biasa membelah gelombang, polisi perairan kini harus bertarung di atas tanah membara demi meredam Karhutla di Kalteng.

Aroma benda terbakar mulai sesekali tercium di udara, membawa ingatan pada pekatnya kabut asap yang selalu menjadi ancaman saat kemarau menyapa Kalimantan Tengah. Di tengah ancaman si jago merah yang mulai menggerogoti lahan, ada pemandangan yang tak biasa di garis depan pertempuran.

Mereka adalah pasukan yang biasanya akrab dengan gelombang dan arus sungai. Namun kali ini, 30 personel Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Kalteng harus menanggalkan zona nyaman mereka. Pasukan ini turun gelanggang, menyusuri semak belukar yang mengering dan tanah yang membara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Baca Juga: Kabut Asap Masih Selimuti Sampit, Polisi Gencarkan Patroli Cegah Kecelakaan

Pengerahan puluhan "pasukan air" ke daratan ini bukan tanpa alasan. Karhutla adalah musuh bersama yang pergerakannya hitungan menit. Langkah taktis ini menjadi bukti keseriusan kepolisian dalam memburu dan mematikan titik api yang masih menyala di sejumlah wilayah, sebelum ia membesar dan melahap apa saja.

Dirpolairud Polda Kalteng, Kombes Pol Dony Eka Putra, memaparkan bahwa pergerakan pasukannya tidak hanya terpusat di satu titik. "Sejauh ini pemadaman dilakukan di beberapa wilayah yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah seperti Palangka Raya, Sampit, Kobar hingga beberapa wilayah lainnya," ujarnya.

Ada ironi sekaligus ketangguhan dalam misi kali ini. Sebagai polisi perairan, insting dan perlengkapan utama mereka sejatinya berada di atas air. Namun, medan Kalimantan Tengah memiliki tantangannya sendiri. Banyaknya titik api yang berada jauh dari bibir sungai dan rawa memaksa strategi diubah secara drastis.

Baca Juga: Narkoba Jenis Baru Diduga Masuk Kotim, Polisi Langsung Lakukan Penyelidikan

Mereka kini berbaur dengan debu dan arang, memanggul selang serta peralatan pemadam menembus jalur darat yang kerap kali terjal dan sulit diprediksi. "Sejauh ini pemadaman fokus melalui jalur darat. Untuk jalur air, (titik) pemadaman sulit dijangkau," tegas Dony membeberkan alasan logis di balik strategi tersebut.

Di lapangan, peluh pasukan Ditpolairud menyatu dengan anggota tim gabungan lainnya. Tak ada lagi sekat kesatuan saat berhadapan dengan bara api. Bahu-membahu, mereka mengutamakan bloking area agar jilatan api tak merambat ke wilayah yang lebih luas.

Baca Juga: Asap Dikhawatirkan Ganggu Peserta Perkemahan Pramuka

Bagi Kalteng, Karhutla bukan sekadar hilangnya vegetasi lahan atau hutan. Ini adalah soal napas dan masa depan. Jika barisan terdepan ini menyerah pada panasnya suhu dan lelahnya raga, kabut asap siap melumpuhkan urat nadi kehidupan, mematikan aktivitas ekonomi, dan mengurung warga dalam udara yang tak layak hirup.

Oleh karena itu, setiap ayunan langkah dan semprotan air dari tim gabungan di atas tanah yang memanas itu adalah sebuah ikhtiar penyelamatan. Sebuah perjuangan tak kenal lelah agar langit Kalimantan Tengah tetap bersih dari asap. (sir/fm)

 

Editor : Farid Mahliyannor
Polairud Polda Kalteng musim kering kahutla kemarau