Sebaran Hotspot Bergeser ke Wilayah Tengah, Ancaman Karhutla Masih Mengintai

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 08:19 WIB
Peta informasi pertumbuhan awan hujan, Kotawaringin Timur masih nihil atau tidak ada potensi hujan. (BMKG) 
Peta informasi pertumbuhan awan hujan, Kotawaringin Timur masih nihil atau tidak ada potensi hujan. (BMKG) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sebaran titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai bergeser. Jika beberapa hari sebelumnya hotspot didominasi wilayah pesisir, kini kemunculannya lebih banyak tersebar di wilayah tengah hingga utara kabupaten.

Berdasarkan pembaruan rekapitulasi hotspot BMKG yang diakses Senin (3/8) pukul 07.00 WIB, dalam 24 jam terakhir terdeteksi 28 hotspot di Kotim.

Meski jumlahnya menurun dibanding hari sebelumnya yang mencapai 47 titik, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai belum mereda.

Sebaran hotspot kali ini muncul di sejumlah kecamatan, di antaranya Teluk Sampit, Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Parenggean, Cempaga Hulu, Bukit Santuai, Antang Kalang, Baamang, Telaga Antang, Telawang, Kota Besi, hingga Tualan Hulu. 

Wilayah Teluk Sampit menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni lima titik yang seluruhnya berada di Desa Ujung Pandaran.

Disusul Parenggean dengan empat titik di Desa Kabau, serta Mentawa Baru Ketapang, Cempaga Hulu, dan Bukit Santuai yang masing-masing mencatat tiga titik panas.

Sementara itu, Mentaya Hilir Utara terdeteksi dua hotspot di Bagendang Tengah. Dua hotspot lainnya muncul di Kecamatan Baamang, sedangkan Antang Kalang juga mencatat dua titik yang tersebar di Tumbang Manya dan Tumbang Nggahan.

Adapun hotspot tunggal terpantau di Kecamatan Telaga Antang, Telawang, Kota Besi, dan Tualan Hulu.

Meski jumlah hotspot menurun, kondisi cuaca belum memberikan harapan besar terhadap penanganan karhutla.

Berdasarkan prakiraan BMKG untuk periode 3 Agustus pukul 07.00 WIB hingga 4 Agustus pukul 07.00 WIB, secara umum Kabupaten Kotawaringin Timur tidak berpotensi mengalami pertumbuhan awan hujan.

"Artinya, peluang hujan yang dapat membantu proses pemadaman maupun membasahi lahan gambut masih sangat kecil," ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, Senin (3/8/2026). 

Peta analisis parameter cuaca BMKG juga menunjukkan sebagian besar wilayah selatan Kotim masih berada pada kategori sangat mudah terbakar, sedangkan wilayah tengah didominasi kategori mudah terbakar.

Memasuki 4 Agustus, area dengan tingkat kerawanan tinggi diperkirakan kembali meluas di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa penurunan jumlah hotspot belum berarti ancaman karhutla telah berakhir.

Tanpa hujan dan dengan tingkat kemudahan terbakar yang masih tinggi, potensi munculnya titik api baru tetap harus diwaspadai, terutama di kawasan lahan gambut dan semak belukar yang telah mengering. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Hotspot Kotim sampit kotim karhutla