SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Medan berat lahan gambut masih menjadi tantangan dalam penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim melaporkan bahwa karakteristik lahan gambut yang mana sumber air pemadaman itu sudah tidak tersedia, sehingga memaksa petugas bekerja ekstra keras.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menceritakan, beratnya perjuangan tim penjinak api saat memadamkan karhutla di kawasan Eka Bahurui bahkan hingga hari ke 12 penanganan di lokasi tersebut.
Baca Juga: Aturan Baru Kemendagri, Kotim Harus Setor 12 Inovasi Daerah
Petugas harus meyambung puluhan selang demi bisa menjangkau titik api yang berada jauh di dalam hutan.
"Kami bahkan harus membentang selang hingga 26 rol. Dikali 30 meter per rol, itu jaraknya sekitar 750 meter dari sumber air ke titik api. Akibat dipaksa bekerja ekstrem mendorong air sejauh itu, satu unit mesin pompa kami sampai rusak," kata Multazam.
Multazam menambahkan, pemadaman di lahan gambut jauh lebih sulit di dibanding lahan mineral yang biasanya dimiliki oleh konsesi perusahaan swasta.
Baca Juga: Kesbangpol Kotim Siapkan Pengganti Jika Capaska Mendadak Mundur
BPBD Kotim juga telah mengajukan bantuan helikopter water bombing ke tingkat provinsi untuk mengatasi keterbatasan ini.
"Kalau lahan konsesi rata-rata mineral, pemadamannya lebih cepat. Sedangkan yang kami tangani ini gambut, sumber airnya sudah tidak tersedia, dan apinya berada di dalam tanah," pungkasnya. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor