SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Meningkatnya luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat strategi mitigasi.
DPRD Kotim menilai evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan desa-desa rawan perlu segera dilakukan agar penanganan bencana bergeser dari pola responsif menjadi berbasis pencegahan.
Anggota DPRD Kotim, Syahbana, mengatakan hingga pertengahan Juli 2026 luas lahan yang terbakar telah mencapai 151,7 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan sistem kesiapsiagaan di tingkat desa sebagai lini pertama pengendalian karhutla.
Baca Juga: Kotim Incar Predikat Sangat Inovatif pada 2026, Andalkan 109 Inovasi Daerah
"Yang perlu dievaluasi bukan hanya penanganan saat kebakaran terjadi, tetapi juga kesiapan desa-desa yang selama ini masuk kategori rawan. Jangan sampai setiap tahun menghadapi persoalan yang sama," ujarnya.
Menurut Syahbana, pemerintah daerah perlu melakukan pemetaan ulang terhadap desa-desa yang berulang kali menjadi lokasi kebakaran. Hasil pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menyusun prioritas alokasi sarana, prasarana, hingga dukungan anggaran untuk mitigasi karhutla.
Ia menilai pendekatan berbasis risiko akan membuat penggunaan sumber daya penanggulangan bencana lebih efektif dibandingkan pola penanganan yang hanya berfokus pada pemadaman saat kebakaran telah meluas.
Baca Juga: Dua Warga Kotim Suspek TBC! Dinkes Kotim Deteksi Dini Penyakit Lewat Program PKG
Selain itu, keberadaan Masyarakat Peduli Api (MPA) dinilai harus semakin diperkuat. Kelompok masyarakat tersebut memiliki peran strategis dalam mendeteksi titik api sejak dini sekaligus melakukan penanganan awal sebelum api berkembang menjadi kebakaran besar.
"Kalau kesiapan di tingkat desa baik, potensi meluasnya kebakaran bisa ditekan. Pencegahan harus menjadi fokus utama, bukan hanya sibuk memadamkan api setelah kebakaran membesar," katanya.
Syahbana juga mendorong pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, pemerintah desa, perusahaan, hingga masyarakat agar sistem pencegahan berjalan terpadu selama musim kemarau.
Baca Juga: UPTD PPA Kotim Siap Dampingi Korban Kekerasan: Identitas Dijamin Rahasia
Berdasarkan data BPBD Kotim, sejak Januari hingga 14 Juli 2026 tercatat 372 titik panas yang memicu 72 kejadian karhutla. Dari jumlah tersebut, 64 kejadian telah berhasil ditangani, sementara luas lahan yang terbakar mencapai 151,7 hektare.
Wilayah tengah menjadi kawasan paling terdampak dengan luas kebakaran 77,93 hektare atau 51,37 persen, disusul wilayah selatan seluas 72,33 hektare atau 47,68 persen, sedangkan wilayah utara mencatat 1,45 hektare atau 0,96 persen. Data tersebut masih bersifat sementara dan akan diperbarui setelah seluruh proses verifikasi lapangan selesai. (ang/fm)
Editor : Farid Mahliyannor