Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Jangan Terkecoh Hujan, BMKG Tegaskan Kotim Sudah Masuk Musim Kemarau

Usay Nor Rahmad • Rabu, 17 Juni 2026 | 11:45 WIB
Pengendara sepeda motor menggunakan mantel menerobos hujan yang melanda Sampit, belum lama ini. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 
Pengendara sepeda motor menggunakan mantel menerobos hujan yang melanda Sampit, belum lama ini. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Hujan yang masih beberapa kali mengguyur Kota Sampit dalam beberapa hari terakhir membuat sebagian warga mengira musim kemarau belum benar-benar tiba.

Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) telah memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, mengatakan masyarakat tidak perlu bingung dengan kondisi cuaca yang masih diselingi hujan. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan hal yang lazim terjadi pada fase awal musim kemarau.

“Juni ini kita sudah memasuki musim kemarau. Namun bukan berarti langsung tidak ada hujan. Hujan masih bisa terjadi, hanya intensitas dan frekuensinya mulai berkurang,” kata Mulyono, Rabu (17/6/2026). 

Dalam beberapa hari terakhir, cuaca di Sampit memang cenderung berubah-ubah. Siang hari terasa panas dan terik, tetapi pada sore hingga malam hari sejumlah wilayah masih diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

BMKG menjelaskan kondisi tersebut merupakan bagian dari masa transisi menuju kemarau yang lebih stabil. Karena itu, hujan yang masih turun sesekali tidak mengubah status musim di wilayah Kotim.

Secara klimatologis, curah hujan diperkirakan akan terus menurun dalam beberapa bulan mendatang. Bahkan, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

BMKG memperkirakan musim kemarau di Kotim dapat berlangsung sekitar 100 hingga 120 hari. Kondisi itu berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ancaman karhutla mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir. Pada Senin (15/6/2026), dua kebakaran lahan terjadi hampir beruntun di Kecamatan Baamang.

Kebakaran pertama terjadi di kawasan Jalan Ir Soekarno-Hatta atau Lingkar Utara sekitar pukul 17.00 WIB. Selanjutnya, kebakaran kembali terjadi di kawasan Jalan Padat Karya, Baamang Tengah sekitar pukul 18.20 WIB.

Peristiwa tersebut membuat petugas gabungan harus bergerak cepat melakukan pemadaman agar api tidak meluas ke area lain.

Selain karhutla, BMKG juga mengingatkan potensi penurunan debit sungai, khususnya di wilayah pesisir selatan Kotim. Jika debit air terus berkurang, air laut berpotensi masuk lebih jauh ke daratan sehingga menyebabkan air sungai menjadi payau.

Menyikapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau berlangsung. Warga juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.

BMKG menegaskan bahwa hujan yang masih sesekali turun bukan pertanda musim hujan kembali datang. Sebaliknya, masyarakat perlu mulai bersiap menghadapi dampak kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#sampit #kemarau #kotim #kalteng #hujan