Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Peternak Lokal Siap Hadapi Lonjakan Permintaan Hewan Kurban

Heru Prayitno • Sabtu, 2 Mei 2026 | 10:46 WIB

 

Masrani, peternak asal Desa Bapeang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang telah menekuni usaha penggemukan sapi dalam enam tahun terakhir. (foto: heru/radar sampit)
Masrani, peternak asal Desa Bapeang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang telah menekuni usaha penggemukan sapi dalam enam tahun terakhir. (foto: heru/radar sampit)

 

SAMPIT – Menjelang Hari Raya Iduladha, para peternak sapi mulai bersiap menghadapi lonjakan permintaan hewan kurban. Salah satunya H Masrani, peternak asal Desa Bapeang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang telah menekuni usaha penggemukan sapi dalam enam tahun terakhir.

H Masrani mengungkapkan, dirinya memanfaatkan momen turunnya harga sapi pasca-Iduladha untuk membeli bakalan. Sapi-sapi tersebut kemudian dipelihara hingga kembali dijual saat harga naik menjelang hari besar keagamaan.

“Biasanya saya beli sapi setelah hari raya kurban, saat harga turun. Bahkan sering juga beli dari pedagang yang tidak habis terjual, jadi bisa dapat harga modal,” ujarnya saat ditemui di Bapeang, Jumat (1/5/2026).

Saat ini, Masrani memelihara sekitar 40 ekor sapi dengan sistem gaduh atau bagi hasil bersama warga setempat. Pola tersebut dipilih karena keterbatasan waktu untuk mengelola ternak secara langsung.

“Warga sekitar yang memelihara, nanti hasilnya dibagi. Ini juga membantu mereka mendapatkan tambahan penghasilan,” jelasnya.

Jenis sapi yang dipelihara beragam, mulai dari sapi Bali hingga limosin, dengan kisaran harga antara Rp20 juta hingga Rp41 juta per ekor. Menurut Masrani, usaha peternakan sapi masih cukup menjanjikan, terutama karena harga cenderung meningkat menjelang Iduladha.

Namun demikian, usaha ini juga memiliki risiko. Selain membutuhkan waktu pemeliharaan yang cukup lama, peternak juga dihadapkan pada potensi kerugian akibat penyakit atau kematian ternak.

“Dalam setahun terakhir ada lima sapi yang mati, dua di antaranya karena dipatuk ular. Kalau sudah begitu, kerugiannya langsung terasa,” ungkapnya.

Dari sisi permodalan, usaha ini juga tergolong besar. Selain harga sapi yang mencapai puluhan juta rupiah, biaya operasional seperti pakan, vitamin, kandang, dan tenaga kerja juga cukup tinggi.

Menghadapi Iduladha tahun ini, Masrani mengubah strategi penjualan. Ia memberikan keleluasaan kepada mitra peternak untuk menjual sapi yang mereka pelihara jika sudah memiliki pembeli.

“Tahun lalu saya yang menjualkan semua. Sekarang kami persilakan mereka menjual sendiri, siapa tahu sudah punya pelanggan,” katanya.

Selain itu, Masrani juga berencana mendatangkan sapi siap jual dari Sulawesi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pengadaan sapi kali ini dilakukan lebih dekat dengan hari raya kurban untuk menekan biaya operasional.

“Kalau dulu dua bulan sebelum Iduladha sudah didatangkan, sekarang sekitar 20 hari sebelumnya. Soalnya biaya operasional besar, tahun lalu saja bisa lebih dari Rp100 juta,” jelasnya.

Menurut Masrani, pola tersebut disesuaikan dengan perilaku konsumen yang umumnya baru mulai memesan hewan kurban sekitar H-10 Iduladha.

Dengan strategi baru ini, ia optimistis dapat memenuhi permintaan pasar sekaligus menekan biaya, sehingga usaha peternak lokal tetap bertahan dan berkembang di tengah tantangan yang ada. (yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#hewan kurban #sapi #Kotawaringin Timur (Kotim) #iduladha