SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Tunjangan Hari Raya (THR) yang seharusnya menjadi tambahan kebahagiaan menjelang Lebaran, kini justru cepat habis bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat THR tidak bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain.
Abdi, seorang pekerja swasta di Sampit, mengaku THR yang diterimanya lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. “Baru cair, langsung dipakai beli sembako. Harga sekarang naik semua, jadi THR habis untuk kebutuhan wajib,” ujarnya.
Menurut Abdi, kondisi tahun ini terasa lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Selain harga bahan pokok yang meningkat, kebutuhan tambahan menjelang Lebaran juga tidak bisa dihindari. “Dulu masih bisa sisa sedikit, sekarang hampir tidak ada. Semua terserap,” tambahnya.
Hal serupa diungkapkan Matheas, pekerja sektor informal. Ia menilai THR kini bukan lagi sekadar bonus tahunan, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup.
“Kalau tidak ada THR, mungkin makin berat. Tapi walaupun ada, tetap saja habis untuk makan, kebutuhan anak, dan persiapan Lebaran. Saya kemarin terima THR 3,7 juta, tidak sampai tiga hari sudah habis,” katanya.
Matheas juga menyoroti kenaikan harga yang semakin memberatkan masyarakat kecil, terutama menjelang hari besar keagamaan. “Setiap mau Lebaran, harga pasti naik, tapi pendapatan tidak ikut naik,” ujarnya.
Sementara itu, Dewi, seorang ibu rumah tangga, mengaku harus memutar otak untuk mengatur pengeluaran agar THR bisa mencukupi hingga hari raya. Namun, tekanan harga membuat prioritas belanja semakin terbatas. “Fokusnya tetap makanan dan kebutuhan dapur. Kalau untuk baju atau yang lain, harus dipikir ulang. THR sekarang memang cepat habis,” ungkapnya.
Kondisi ini mencerminkan tekanan nyata terhadap daya beli masyarakat. Kenaikan harga sejumlah komoditas, seperti beras, minyak goreng, gula, hingga daging menjelang Lebaran, membuat alokasi pengeluaran semakin besar hanya untuk kebutuhan pokok. (ang/yit)
Editor : Heru Prayitno