SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat (SR) Terpadu 55 Kotim mulai dilaksanakan di Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur. Kepala Sekolah Nikkon Bhastari menargetkan bangunan dua lantai tersebut rampung paling lambat Juli 2026 agar dapat digunakan secara optimal pada tahun ajaran baru.
Saat ini, kegiatan belajar mengajar masih menempati gedung sementara di kawasan Islamic Center Sampit, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Nikkon menyebut kapasitas gedung sementara sudah tidak memadai untuk mendukung pengembangan sekolah.
“Bangunan permanen sudah mulai dikerjakan. Target selesai Juli, paling lambat Agustus 2026 sudah bisa digunakan karena kuota peserta didik tahun ini mencapai 1.080 orang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga pembinaan karakter serta berbagai aktivitas pendukung. Karena itu, kebutuhan tenaga pendidik dan pendamping menjadi perhatian serius.
Saat ini tenaga pengajar masih didominasi guru mata pelajaran umum, termasuk guru bimbingan dan konseling (BK). Namun, sekolah belum memiliki guru pendamping khusus. Dalam rekrutmen terbaru, terdapat tambahan guru hasil seleksi serta penambahan tiga pembina asrama putra. Sementara untuk asrama putri belum ada penambahan tenaga.
“Wali asuh saat ini berjumlah 16 orang. Sebelumnya ada 10 orang, namun dua mengundurkan diri. Secara perhitungan kebutuhan kerja delapan jam, jumlah guru untuk jenjang SD sekitar 24 orang, tetapi itu masih belum ideal,” katanya.
Dalam enam bulan operasional pertama, pihak sekolah menghadapi sejumlah tantangan. Hasil evaluasi menunjukkan masih ada siswa yang belum lancar membaca. Setelah ditelusuri, sebagian siswa mengalami gangguan penglihatan sehingga perlu difasilitasi kacamata.
Selain itu, terdapat siswa yang membutuhkan pendampingan psikologis hingga dirujuk ke dokter. Kondisi tersebut membuat pengelolaan sekolah tidak hanya berada pada ranah pendidikan, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan kesehatan anak.
Di sisi lain, Nikkon menyoroti masih adanya kesalahpahaman masyarakat terkait konsep Sekolah Rakyat. Ia menegaskan, sekolah tersebut bukan tempat penampungan anak bermasalah, melainkan wadah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang memiliki semangat belajar dan cita-cita untuk masa depan yang lebih baik.
“Sekolah Rakyat ini untuk anak-anak yang memiliki keinginan belajar, bukan untuk anak nakal seperti yang sering disalahartikan,” tegasnya.
Terkait administrasi, laporan semester pertama telah disiapkan dan akan disampaikan ke kementerian terkait dengan tembusan kepada BPKP dan Dinas Sosial. Penyerahan laporan direncanakan pada Maret ini sebelum peserta didik memasuki masa libur Lebaran.
Dengan pembangunan gedung permanen serta penambahan tenaga pendidik, pihak sekolah berharap SR Terpadu 55 Kotim dapat berkembang lebih baik dan menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan akses pendidikan. (yn/yit)
Editor : Heru Prayitno