SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Inovasi pupuk organik berbahan limbah sawit hasil penelitian Dr. Joni dari SMA Muhammadiyah Sampit mulai dirasakan manfaatnya oleh petani di Desa Bapeang. Rahman, salah satu petani padi setempat, mengaku tanaman padinya tumbuh lebih subur dan hijau setelah disemprot pupuk tersebut.
Pupuk yang dihasilkan dari limbah tandan kosong kelapa sawit itu diaplikasikan dengan cara disemprotkan langsung ke tanaman. Hasilnya terlihat jelas. “Tanaman yang disemprot lebih hijau dan segar. Sementara yang tidak disemprot cenderung menguning,” ujar Rahman.
Ia berharap pupuk hasil penelitian tersebut bisa diproduksi lebih banyak agar semakin banyak petani merasakan manfaatnya. Menurutnya, inovasi ini berpotensi menekan biaya produksi pertanian karena petani tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia yang harganya relatif mahal.
“Kalau bisa, dilanjutkan penelitiannya dan diproduksi massal, tentu sangat membantu petani. Kami juga berharap ada dukungan pemerintah untuk kemajuan pertanian di Kotim,” harapnya.
Sementara itu, Dr. Joni menjelaskan bahwa pupuk limbah sawit tersebut masih dalam tahap penelitian dan belum masuk uji coba lapangan secara luas. Penelitian dilakukan di kawasan PT Sampit International dan dinilai selaras dengan program pemerintah daerah, khususnya dalam pengelolaan sampah dan penguatan ketahanan pangan.
Menurut Joni, limbah sawit seperti tandan kosong seharusnya tidak dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan. Proses pembusukan dapat menghasilkan gas amonia dan karbon dioksida yang berdampak negatif terhadap lingkungan.
“Jika tandan kosong sawit dibiarkan menumpuk, pembusukannya akan menghasilkan gas berbahaya serta berkontribusi terhadap pemanasan global dan kerusakan lapisan ozon,” ujarnya kepada Radar Sampit, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, inovasi ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga mendorong kemandirian pertanian lokal melalui pemanfaatan pupuk organik.
Namun, proses penelitian sempat terhenti karena perusahaan sawit tidak lagi memasok limbah setelah adanya inspeksi mendadak dari DPRD Kotawaringin Timur bersama Dinas Lingkungan Hidup Kotawaringin Timur.
Sebelumnya, pihak sekolah telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada DLH Kotim pada 15 Desember 2025. Karena bersifat akademik dan tidak berorientasi komersial, kegiatan tersebut dinilai tidak memerlukan perizinan layaknya usaha industri.
Joni menyayangkan adanya sidak yang menurutnya justru menghambat kegiatan ilmiah. Ia menilai penelitian akademik semestinya dijaga independensinya, terlebih tujuannya membantu pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan sampah dan mendukung petani.
“Kami menawarkan solusi konkret. Sampah di Kotim sudah menumpuk di TPA, ditambah limbah sawit yang jika tidak dikelola dengan baik justru membahayakan lingkungan. Ranah ilmiah jangan sampai tercampur dengan kepentingan lain,” tegasnya.
Inovasi pupuk dari limbah sawit ini menunjukkan potensi besar dalam dua aspek sekaligus: pengelolaan lingkungan dan peningkatan produktivitas pertanian. Jika dikembangkan secara serius dengan dukungan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, riset ini dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi daerah penghasil sawit seperti Kotawaringin Timur.
”Dukungan regulasi yang jelas serta kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan sektor swasta sangat dibutuhkan agar penelitian tidak terhenti di tengah jalan. Dengan sinergi yang tepat, limbah sawit bukan lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber daya bernilai bagi ketahanan pangan daerah,” ujar Joni. (yit)
Editor : Heru Prayitno