SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Permainan tradisional Dayak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kian terpinggirkan akibat minimnya pewarisan budaya kepada generasi muda.
Dominasi gawai dan permainan digital, terbatasnya ruang bermain terbuka, serta berkurangnya peran orang tua dan tetua adat dinilai menjadi faktor utama memudarnya praktik permainan tradisional di tengah masyarakat.
Damang Kecamatan Teluk Sampit, Syahrul Huda, menilai kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian serius. Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya pelestarian yang berkelanjutan, permainan tradisional Dayak berpotensi hilang dan hanya tersisa sebagai cerita sejarah.
“Jika tidak diantisipasi, permainan tradisional bisa hilang dan hanya menjadi cerita, bukan lagi praktik hidup,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Menurut Syahrul Huda, permainan tradisional Dayak seperti habayang, balogo, dan manyipet bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan adat yang berperan penting dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini.
Melalui permainan tersebut, anak-anak diajarkan nilai moral, sosial, dan budaya secara alami.
Ia menjelaskan, dalam pandangan adat Dayak, permainan tradisional merupakan bagian dari pangalajaran tulus atau pembelajaran hidup yang diwariskan secara turun-temurun.
Anak-anak belajar mengenal diri, lingkungan, serta nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
“Permainan tradisional Dayak mengajarkan disiplin, sportivitas, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada sesama. Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter yang beradab dan beretika,” katanya.
Lebih lanjut, Syahrul Huda memaparkan bahwa habayang melatih ketangkasan, keseimbangan, serta sikap sportif.
Balogo menanamkan ketelitian, strategi, kesabaran, dan kebersamaan, sementara manyipet atau menyumpit mengajarkan fokus, disiplin, serta tanggung jawab, yang pada masa lalu juga berkaitan dengan keterampilan bertahan hidup dan berburu.
Selain melatih fisik, permainan tradisional Dayak juga membentuk mental, emosi, dan kemampuan sosial anak secara seimbang.
Nilai luhur seperti gotong royong, kejujuran, keberanian yang beretika, serta penghormatan kepada orang yang lebih tua turut ditanamkan melalui permainan tersebut.
Syahrul Huda berharap orang tua dapat kembali berperan aktif mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di rumah maupun lingkungan sekitar.
Ia juga mendorong sekolah agar mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, dan pendidikan karakter.
“Kami berharap pemerintah juga mendukung melalui kebijakan, festival budaya, lomba permainan tradisional, serta penyediaan ruang publik ramah anak berbasis budaya lokal,” ujarnya.
Dengan dukungan bersama, ia optimistis permainan tradisional Dayak dapat tetap hidup sebagai warisan budaya, identitas, dan sumber nilai kehidupan bagi generasi Dayak Kalimantan Tengah saat ini maupun di masa mendatang. (ktr-2).
Editor : Slamet Harmoko