Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

RSUD Murjani Sampit Optimalkan Sistem Rujukan untuk Atasi Overload Pasien IGD

Heny Pusnita • Minggu, 30 November 2025 | 21:19 WIB
LAYANAN IGD: Instalasi Gawat Darurat di lantai 2 RSUD dr Murjani Sampit yang terpantau kondusif tidak terlalu banyak pasien, Sabtu (29/11).
LAYANAN IGD: Instalasi Gawat Darurat di lantai 2 RSUD dr Murjani Sampit yang terpantau kondusif tidak terlalu banyak pasien, Sabtu (29/11).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – RSUD dr Murjani Sampit terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan di tengah tingginya kunjungan pasien, khususnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang kerap mengalami kelebihan kapasitas.

Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Murjani Sampit dr Muhamad Taufiqurrahman Sp.P mengatakan, pihaknya sering menerima kritik dari masyarakat terkait mutu pelayanan. Namun, kondisi overload menjadi tantangan utama dalam memberikan layanan optimal.

“Bukan karena kami tidak berupaya memberikan pelayanan terbaik, tetapi jumlah pasien yang datang sering melebihi kapasitas. Hal ini memengaruhi kecepatan dan kenyamanan layanan,” ujarnya, Sabtu (29/11).

Taufiq menjelaskan, tingginya tekanan kerja akibat membludaknya pasien juga berpengaruh terhadap kondisi mental tenaga kesehatan. Meski demikian, seluruh petugas IGD dituntut tetap profesional.

Ia menegaskan bahwa IGD telah menerapkan standar operasional prosedur, termasuk sistem triase untuk menentukan tingkat kegawatan pasien. Triase Merah: gawat darurat dan harus segera ditangani. Triase Kuning: gawat tetapi tidak darurat. Triase Hijau: tidak gawat darurat

Dia mengakui masih ada keluarga pasien yang belum memahami sistem tersebut dan menuntut layanan cepat meskipun kasus tidak masuk kategori darurat.

“Semua pasien yang masuk IGD diobservasi minimal enam jam. Tidak semua pasien otomatis dirawat inap karena perlu penilaian objektif serta pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan rontgen,” katanya.

Taufiq juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang lebih memilih langsung ke rumah sakit dibanding Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik.

“Tidak semua penyakit bisa ditangani di rumah sakit, terutama bagi peserta JKN-KIS yang harus mengikuti ketentuan BPJS Kesehatan. Ada 144 jenis penyakit yang wajib ditangani di puskesmas,” jelasnya.

Penyakit tersebut meliputi kondisi umum seperti flu, ISPA, diare, gastritis, infeksi kulit, hingga hipertensi dan diabetes tipe 2.

Pada Mei 2025, RSUD dr Murjani Sampit bersama 21 puskesmas dan sejumlah klinik swasta menandatangani kesepakatan terkait tata cara rujukan yang difasilitasi IDI Kotim dan BPJS Kesehatan. Kesepakatan ini dinilai memberi dampak positif pada kelancaran sistem rujukan.

“Kami telah menyediakan call center untuk konsultasi sebelum merujuk pasien. Jika lebih dari 30 menit tidak ada respons, FKTP diperbolehkan merujuk langsung ke rumah sakit,” ungkap Taufiq, yang mulai menjabat sebagai Kepala IGD pada Mei 2025.

Ia menilai alur rujukan kini berjalan lebih baik dan membantu mengurangi kepadatan di IGD. “Tidak semua pasien harus dibawa ke IGD. Jika pasien tetap memaksa, tenaga kesehatan di FKTP akan menjelaskan bahwa biaya akan ditanggung sendiri, bukan oleh BPJS,” jelasnya.

Untuk menekan beban IGD, Taufiq berharap RS Pratama Parenggean dan RS Pratama Samuda dapat dioptimalkan dengan dukungan peralatan medis yang lebih lengkap dan ketersediaan dokter spesialis.

“Saat ini sudah ada layanan spesialis dua pekan sekali. Namun akan lebih baik jika kedua rumah sakit memiliki dokter spesialis yang bertugas secara tetap,” ujarnya yang juga menjabat Ketua IDI Kotim.

Kepala Ruang IGD Ahmad Yudhi Asyaidi menambahkan, rata-rata kunjungan pasien berkisar 45–50 orang per hari. Pada kondisi tertentu, kunjungan bisa meningkat hingga 70–80 pasien.

IGD RSUD dr Murjani saat ini memiliki 23 bed, 25 perawat, dan 20 dokter yang siap melayani pasien gawat darurat.

“Lonjakan biasanya terjadi setelah magrib hingga malam hari. Saat musim hujan, kasus demam berdarah meningkat dan menyebabkan IGD overload,” kata Yudhi.

Ia menyebut kasus yang sering masuk IGD antara lain hipertensi, diabetes melitus, jantung, demam, dan kecelakaan lalu lintas. Saat ini, layanan spesialis saraf belum tersedia sehingga pasien stroke harus dirujuk ke fasilitas lain.

“Dalam sepekan terakhir kunjungan cukup stabil dan tidak sampai overload,” ujarnya. (hgn)

Editor : Gunawan.
#RSUD dr Murjani Sampit