Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tiwah Massal Dukung Pelestarian Adat dan Keagamaan

Yuni Pratiwi Iskandar • Selasa, 28 Oktober 2025 | 21:10 WIB
KEAGAMAAN: Ritual Tiwah masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotim, Minggu (26/10/2025). FOTO: ILHAM/RADAR SAMPIT
KEAGAMAAN: Ritual Tiwah masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotim, Minggu (26/10/2025). FOTO: ILHAM/RADAR SAMPIT

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) berupaya menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat dan keagamaan masyarakat.

Rencananya pemerintah daerah akan menggelar Tiwah massal di Kota Sampit yang ditargetkan terlaksana pada tahun 2026 atau 2027 mendatang. 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Wim RK Benung menyampaikan bahwa pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan adat dan keagamaan seperti ritual Tiwah, yang merupakan warisan budaya umat Hindu Kaharingan.

“Ritual Tiwah adalah warisan budaya yang sangat berharga. Pemerintah berkomitmen agar kegiatan ini terus dilestarikan, bahkan dikembangkan menjadi daya tarik wisata budaya tanpa mengurangi nilai sakralnya,” ujar Wim, Minggu (26/10/2025).

Wim menjelaskan, rencana Tiwah massal tersebut akan digelar bekerja sama dengan Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) dan lembaga adat setempat. Selain untuk melestarikan tradisi, kegiatan itu juga diharapkan dapat memperkuat kebersamaan masyarakat lintas suku dan agama.

“Kami ingin menghidupkan kembali tradisi leluhan, bagian dari ritual Tiwah yang sudah lama tidak dilakukan di Sampit. Tradisi ini melibatkan perahu dan simbol-simbol adat yang penuh makna kebersamaan,” tambahnya.

Pemerintah melihat pelaksanaan ritual Tiwah bukan hanya sebatas kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar bagi pengembangan pariwisata budaya dan ekonomi lokal.

“Dengan promosi yang tepat, Tiwah bisa menjadi agenda budaya tahunan yang menarik wisatawan, meningkatkan pendapatan asli daerah, sekaligus menggerakkan UMKM lokal,” ujar Wim.

Dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan ini juga terlihat dari upaya Disbudpar dalam melakukan pendataan dan pendampingan bagi desa-desa yang masih aktif melaksanakan ritual adat Kaharingan. Pemerintah ingin memastikan tradisi tersebut tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi muda.

Sementara itu, di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Minggu (26/10), masyarakat Hindu Kaharingan melaksanakan ritual Tiwah sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi arwah leluhur.

Prosesi ini diyakini sebagai jalan mengantarkan roh menuju Lewu Tatau, tempat suci bagi roh yang telah menyatu dengan Sang Pencipta.

Ritual sakral ini berlangsung penuh khidmat. Dimulai dengan pengangkatan tulang belulang leluhur, pembersihan, dan prosesi nyakean atau memasukkan tulang ke dalam sandung. Hewan kurban berupa dua ekor kerbau, tiga ekor babi, dan beberapa ekor ayam turut dipersembahkan sebagai simbol perjalanan roh menuju alam baka.

Pisor Desa Pondok Damar, Janel I Antang, menjelaskan bahwa pelaksanaan Tiwah memerlukan persiapan panjang dan biaya besar, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Tiwah adalah wujud kasih dan penghormatan terakhir kepada leluhur. Melalui ritual ini, keluarga berharap arwah diterima di Lewu Tatau dan diberkahi kesejahteraan,” tandasnya. (yn/fm) 

Editor : Farid Mahliyannor
#adat #Dayak #Hindu Kaharingan #tiwah