SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di Taman Kota Sampit, Rabu (30/7), tidak hanya disambut antusias oleh masyarakat, tetapi juga diharapkan efektif untuk mengendalikan harga beras yang terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim Muhammad Azwar Fuad mengatakan, GPM merupakan program dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang dilaksanakan di daerah melalui dinas yang membidangi pertanian dan ketahanan pangan, dengan melibatkan berbagai instansi termasuk Bulog.
“Kami dari Bulog membawa beras SPHP sebanyak 2 ton atau 400 karung. Hampir seluruhnya habis. Ini menunjukkan animo masyarakat sangat tinggi terhadap beras murah,” kata Azwar di sela kegiatan.
Azwar menjelaskan, selain program bantuan pangan (Banpang) gratis yang menyasar masyarakat kurang mampu, keberadaan GPM ini memberi akses alternatif bagi masyarakat umum untuk bisa mendapatkan beras dengan harga terjangkau.
“Kalau bantuan pangan gratis itu khusus untuk masyarakat miskin, maka program GPM ini bisa dinikmati siapa saja. Tinggal datang dan beli langsung. Itulah bedanya,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, beras SPHP dijual seharga Rp60.000 per karung isi 5 kilogram, atau setara Rp12.000 per kilogram. Harga ini jauh di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium yang berada di angka Rp65.500 per 5 kg.
“Jadi ini bentuk intervensi pemerintah. Harapannya, dengan GPM yang terus digelar, harga beras bisa turun dan kembali normal, tidak lagi melebihi HET,” tegas Azwar.
Ke depan, pihaknya bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan merencanakan pelaksanaan GPM secara rutin dan menyasar lebih banyak lokasi, termasuk kelurahan-kelurahan di dalam Kota Sampit.
“Biasanya di kelurahan itu jadi titik kumpul masyarakat. Dengan lokasi yang dekat, harapannya makin banyak warga yang bisa mengakses beras murah ini,” imbuh Azwar.
Stok beras medium di gudang Bulog Kotim saat ini kurang lebih ada 6.200 ton. Jumlah tersebut terbilang banyak, sehingga dapat mendukung program GPM di kabupaten ini.
“Stok beras sangat banyak untuk mendukung pelaksanaan GPM. Jadi untuk berjualan beras medium relatif tidak ada masalah. Apalagi kita pun di beberapa titik saat ini ada panen lagi, panen musim gadu, jadi kita pun di satu sisi di hulu kita masih menyerap beras dari petani, tapi di hilirnya kita masifkan juga penjualan beras mediumnya, sehingga masyarakat tidak membeli beras dalam harga yang mahal,” pungkasnya. (yn/yit)
Editor : Heru Prayitno