SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sosok Panji Petualang, yang dikenal luas lewat aksi-aksinya menjinakkan hewan liar, menyambangi Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Bukan sekadar unjuk atraksi, Panji hadir untuk memberikan edukasi penting tentang penanganan ular berbisa dan langkah penyelamatan pertama bagi korban gigitan ular.
Kegiatan yang digelar akhir pekan kemarin itu berlangsung semarak. Bertempat di halaman sebuah Kafe Reptile yang juga selter satwa liar di Jalan Gunung Rinjani Sampit, Kecamatan Baamang, Panji tampil dengan gaya khasnya: lugas, berani, dan menghibur.
Namun kali ini, misi utamanya bukan adu nyali, melainkan menyelamatkan nyawa lewat edukasi.
“Masih banyak orang yang salah penanganan saat ada gigitan ular berbisa. Kadang malah memperparah kondisi korban. Itu yang harus diluruskan,” ujar Panji dalam sesi Edukasi nya, Minggu sore (20/7/2025).
Ia menjelaskan berbagai jenis ular berbisa yang umum ditemukan di wilayah Kalimantan, termasuk ular kobra, ular tanah, dan viper.
Panji juga menunjukkan cara membedakan ular berbisa dan tidak, serta memperagakan teknik pertolongan pertama yang benar, seperti posisi korban yang harus tetap tenang, menghindari gerakan berlebih, hingga pentingnya segera mencari bantuan medis.
Tak hanya masyarakat umum, kegiatan ini juga dihadiri komunitas pecinta reptil Sampit, personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kotim, serta sejumlah aktivis penyelamat satwa liar.
Mereka antusias menyimak tiap penjelasan Panji dan tak ragu bertanya langsung soal pengalaman di lapangan.
“Ini sangat membantu kami di lapangan, apalagi saat terima laporan ada ular masuk permukiman. Harus tahu mana yang berbahaya dan bagaimana menanganinya,” ujar Harie, pecinta satwa liar di Sampit.
Kegiatan ini menjadi pelengkap dari antusiasme warga Sampit terhadap edukasi satwa liar yang sebelumnya juga sempat digaungkan lewat pemberitaan tentang tren memelihara reptil di kalangan anak muda Sampit.
Namun Panji mengingatkan, mencintai satwa bukan sekadar tren, tapi harus dibarengi tanggung jawab dan pengetahuan.
“Mau pelihara reptil? Boleh. Tapi harus tahu risikonya, tahu cara penanganannya, dan tetap menjaga keselamatan diri dan lingkungan,” tegas Panji.(*)
Editor : Slamet Harmoko