NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Perumdam Tirta Lamandau menghentikan sementara distribusi air bersih kepada warga Kota Nanga Bulik, Minggu (6/9/2026). Penghentian dilakukan sebagai langkah antisipasi setelah adanya aktivitas menuba adat oleh masyarakat Desa Bunut, Kecamatan Bulik, yang diduga berdampak terhadap kualitas air baku Sungai Lamandau.
Perumdam melakukan pengecekan mutu dan kualitas air baku Sungai Lamandau untuk memastikan kondisi air sebelum distribusi kembali dilakukan. Penghentian distribusi berlangsung sejak Sabtu sore (5/9) hingga Minggu sekitar pukul 11.00 WIB.
Selain distribusi air bersih ke rumah warga, penyaluran air bagi masyarakat yang terdampak kekeringan juga sempat dihentikan sementara.
Plt Direktur Perumdam Tirta Lamandau, Manto, mengatakan penghentian distribusi dilakukan untuk mengantisipasi dampak aktivitas menuba. Keputusan tersebut juga dilakukan bersamaan dengan perbaikan mesin intake.
“Kalau kemarin sore memang ada perbaikan mesin intake. Kebetulan kita juga mendengar ada kegiatan menuba, sehingga kita memutuskan off sementara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Manto saat dikonfirmasi.
Manto meluruskan informasi yang beredar di media sosial mengenai penghentian distribusi air selama dua hingga tiga hari. Menurut dia, durasi penghentian belum dapat dipastikan karena Perumdam masih menunggu hasil pemeriksaan sampel air dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).
“Nunggu hasil pemeriksaan Labkesda, kalau sungai sudah bersih dari racun, PDAM beroperasi kembali,” tegasnya.
Penghentian distribusi tersebut mendapat keluhan dari masyarakat di media sosial. Salah satunya pemilik akun Facebook Irwansyah Iwan yang mengkhawatirkan dampak air tuba terhadap kesehatan masyarakat Nanga Bulik.
Keluhan serupa disampaikan Gusti Eman, salah satu pemilik keramba apung di Sungai Lamandau. Ia mengaku khawatir aktivitas menuba turut berdampak terhadap ikan yang dipeliharanya.
Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra juga menanggapi persoalan tersebut melalui unggahan di media sosial. Ia mengimbau masyarakat mempertimbangkan dampak yang lebih luas sebelum melaksanakan aktivitas menuba, mengingat Sungai Lamandau menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Kepala Desa Bunut, Hartoyo, menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosialnya kepada Bupati Lamandau dan masyarakat Kecamatan Bulik atas aktivitas nuba adat tersebut.
Hartoyo menjelaskan, kegiatan menuba dilakukan atas kemauan masyarakat dan tidak mendapat instruksi maupun persetujuan dari Pemerintah Kabupaten Lamandau, pemerintah kecamatan, ataupun Pemerintah Desa Bunut.
“Kami sampaikan juga mengenai kegiatan menuba adat yang di Desa Bunut tidak ada instruksi/persetujuan dari pihak pemerintah kabupaten, kecamatan ataupun pemerintah desa. Ini memang murni kemauan masyarakat semata,” tulisnya.
Perumdam Tirta Lamandau masih menunggu hasil pemeriksaan sampel air Sungai Lamandau untuk memastikan mutu dan kualitas air baku sebelum distribusi air bersih kembali dilakukan secara normal. (mex/yit)
Editor : Heru Prayitno