NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Majelis Dayak Tomun (MDT) menyatakan kekecewaannya atas minimnya kehadiran anggota DPRD Kabupaten Lamandau dalam audiensi yang digelar pada pertengahan bulan lalu. Dari total 25 anggota DPRD Lamandau, hanya delapan orang yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Wakil Raja II MDT Frans Efendi mengatakan audiensi tersebut merupakan agenda resmi yang dilaksanakan atas undangan DPRD Kabupaten Lamandau. Namun, banyak kursi anggota dewan yang kosong saat masyarakat menyampaikan aspirasi.
"Kami sangat kecewa karena banyak anggota DPRD yang tidak hadir, khususnya yang bersuku non-Dayak," ujar Frans Efendi.
Menurut Frans, masyarakat Dayak Tomun datang dengan harapan agar berbagai persoalan dan aspirasi yang mereka bawa dapat didengar langsung oleh seluruh unsur DPRD. Ia menilai ketidakhadiran sejumlah anggota DPRD menjadi catatan serius. Kondisi tersebut dapat memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai komitmen wakil rakyat dalam menyerap aspirasi.
"Jangankan turun langsung ke akar rumput untuk menyerap aspirasi, rakyat yang datang ke kantor saja seperti dihindari. Nanti datang saat ada maunya, saat butuh suara saja," ujarnya.
Frans juga mengingatkan pentingnya menjunjung nilai kebersamaan dan menghormati daerah tempat mengabdi. Semangat tersebut perlu diwujudkan oleh seluruh anggota DPRD tanpa memandang latar belakang suku.
Diketahui, audiensi tersebut dipimpin langsung Raja Dayak Tomun Dr Marukan, Mas Labihi Patih Kunci, bersama jajaran pengurus MDT. Dalam pertemuan itu, MDT menyampaikan berbagai usul, saran, dan kritik konstruktif untuk kemajuan masyarakat Dayak Tomun dan Kabupaten Lamandau.
Sejumlah isu strategis yang disampaikan antara lain pemberdayaan sumber daya manusia Dayak Tomun di lingkungan eksekutif, legislatif, dan yudikatif; pemerataan pembangunan desa; pengangkatan putra-putri Dayak Tomun dalam jabatan strategis; penyelesaian infrastruktur jalan; penanganan konflik lahan; pembangunan rumah ibadah; serta usulan pembentukan lembaga penyelenggara Festival Babukung sebagai ikon budaya daerah.
Audiensi diterima oleh Ketua DPRD Lamandau bersama sejumlah anggota dewan yang hadir. MDT mencatat sebagian besar peserta dari unsur DPRD yang mengikuti pertemuan berasal dari kalangan Dayak, sementara tidak ada anggota DPRD dari unsur non-Dayak yang terlihat hadir.
MDT berharap seluruh anggota DPRD Lamandau dapat menghadiri forum-forum serupa di masa mendatang tanpa memandang latar belakang suku, sehingga komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat berjalan lebih efektif serta aspirasi seluruh lapisan masyarakat dapat terakomodasi secara menyeluruh. (mex/yit)
Editor : Heru Prayitno