Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Gas LPG Nonsubsidi Naik, UMKM di Lamandau Hadapi Pilihan Sulit

Ria Mekar Anggreany • Jumat, 24 April 2026 | 04:45 WIB

 

Ilustrasi pelaku UMKM, terbebani dengan imbas kenaikan harga minyak dunia.(dibuat dengan AI)
Ilustrasi pelaku UMKM, terbebani dengan imbas kenaikan harga minyak dunia.(dibuat dengan AI)

 

NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Harga gas LPG non-subsidi di Kabupaten Lamandau mengalami kenaikan yang dikeluhkan masyarakat karena dinilai membebani kebutuhan rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan terjadi pada dua jenis tabung LPG, yakni tabung 5,5 kilogram yang naik sebesar Rp17.000 per tabung dan tabung 12 kilogram yang naik hingga Rp35.000 per tabung.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada masyarakat, terutama di tengah meningkatnya harga kebutuhan pangan serta kenaikan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Warga menyebut kondisi ini semakin menekan pengeluaran sehari-hari.

Salah satu warga Lamandau, Nata, mengaku keberatan dengan kenaikan harga tersebut karena memengaruhi kebutuhan rumah tangga sekaligus usaha kecilnya.

“Kami sangat keberatan. Kenaikannya cukup besar dan langsung terasa, apalagi bagi kami yang bergantung pada gas untuk usaha kecil maupun kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling terdampak. Para pedagang makanan dan pemilik warung dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau menanggung biaya produksi yang meningkat.

Salah satu pemilik warung makan mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada gas, tetapi juga bahan baku dan kemasan.

“Kalau harga terus naik, kami terpaksa menaikkan harga makanan. Tapi kalau dinaikkan, takut pelanggan berkurang. Gas naik, bahan baku naik, plastik juga naik,” keluhnya.

Para pelaku usaha umumnya menggunakan LPG 5,5 kilogram dan 12 kilogram karena ketersediaannya lebih stabil. Sementara itu, LPG subsidi 3 kilogram dinilai sulit diperoleh sehingga mengganggu operasional usaha.

Di sejumlah rumah makan, kenaikan biaya produksi tersebut mulai berdampak pada harga jual, yang diketahui meningkat sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per porsi. (mex/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#elpiji #lamandau #UMKM #lpg