NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), warga Kabupaten Lamandau, khususnya di Kota Nanga Bulik, mengeluhkan kelangkaan Elpiji subsidi ukuran 3 kilogram atau gas melon. Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat, bahkan sebagian warga menyampaikan keluhan melalui media sosial.
Salah satu keluhan disampaikan oleh Saby, seorang ibu rumah tangga di Nanga Bulik. Melalui unggahan di media sosial, ia mengaku sudah hampir sepekan kesulitan mendapatkan Elpiji 3 kg untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
“Susah benar mencari gas 3 kg. Kalau ada yang jual Rp50 ribu hari ini juga saya beli, karena sudah seminggu tidak masak di rumah,” tulis Saby dalam unggahannya yang kemudian mendapat perhatian warganet.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah warung kecil dan pengecer di Nanga Bulik memang mengalami kekosongan stok Elpiji 3 kg. Kelangkaan ini diduga dipicu oleh meningkatnya permintaan menjelang Nataru, serta adanya praktik pembelian dalam jumlah besar.
Seorang pedagang sembako di Nanga Bulik mengungkapkan, pasokan dari pangkalan sering kali habis dalam waktu singkat.
“Saya ke pangkalan sering kehabisan. Mungkin sudah diborong oleh penjual yang memasok ke desa dengan harga lebih tinggi. Di desa, harga gas bisa mencapai Rp40 ribu per tabung,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUKMPP) Kabupaten Lamandau, Penyang, membenarkan adanya kekosongan stok Elpiji 3 kg di beberapa pangkalan. Namun, ia memastikan pasokan baru segera datang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Pangkalan memang sempat mengalami kekosongan. Di pangkalan UD Berkah Hijrah, stok kosong, namun hari ini dijadwalkan masuk 200 tabung Elpiji 3 kg,” kata Penyang saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di pangkalan lainnya. “Untuk pangkalan UD Barokah, stok juga kosong, tetapi pada 24 Desember dijadwalkan masuk sebanyak 180 tabung. Permintaan masyarakat memang meningkat menjelang Nataru, namun kondisi ini bersifat musiman dan masih tergolong normal,” jelasnya.
Menurut Penyang, secara umum pasokan Elpiji 3 kg ke Kabupaten Lamandau masih berjalan normal. Kekosongan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih disebabkan oleh lonjakan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat memperketat pengawasan distribusi Elpiji subsidi agar tepat sasaran serta mencegah adanya oknum yang memanfaatkan situasi untuk menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. (mex/yit)
Editor : Heru Prayitno