Enaknya Isolasi di Mess Desa
Slamet Harmoko • Kamis, 5 Agustus 2021 | 10:50 WIB
NANGA BULIK- Banyak masyarakat di Kabupaten Lamandau yang masih meremehkan bahayanya covid 19. Sehingga saat sakit dan mengalami gejala mereka menganggapnya sebagai sakit biasa dan enggan menjalani swab antigen ataupun RT-PCR.
“Padahal yang mengalami sakit batuk, pilek, demam, badan pegal linu, diare hingga hilang penciuman dan perasa itu banyak. Dalam satu kampung bisa puluhan orang, tapi mereka menganggapnya remeh. Dianggap penyakit musim buah saja,” kata salah satu warga Desa Bumi Agung.
Pantauan media ini, hal serupa juga ditemui di beberapa desa lain di Kabupaten Lamandau. Namun ternyata sebenarnya warga takut jika diperiksa pasti positif Covid-19 dan akan langsung diisolasi oleh pemerintah di mess desa.
“Pemahaman yang salah ini harus diubah. Isolasi mandiri di rumah tanpa pengawasan itu sangat berbahaya, apalagi jika bergejala dan ada penyakit penyerta. Akibatnya banyak yang terlambat datang ke rumah sakit saat kodisi sudah kritis, baru sehari masuk sudah meninggal,” ujar Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Lamandau, Hendra Lesmana.
Ia menegaskan agar masyarakat yang merasakan gejala sebaiknya datang ke petugas kesehatan dan menyatakan dengan jujur gejalanya atau ke satgas di desa dan kelurahan. Bagi yang sudah dinyatakan positif hasil tes antigen bisa datang ke pusat isolasi mess desa.
“SOPnya setelah datang ke mess desa, lapor ke pos BPBD, kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan serta mendapat paket masker dan vitamin dari petugas kesehatan. Lalu mendaftarkan nomor WA untuk bergabung di grup WA mess desa. Dan bisa menjalani isolasi selama 10-14 hari,” beber Vera, petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Lamandau.
Di mess desa, lanjutnya, segala kebutuhan makan, minum dan vitamin serta obat-obatan akan ditanggung. Seperti paket vitamin B kompleks, vitamin C, E, D3 1000 IU, dan paracetamol. Beberapa vitamin ini mungkin sekarang mulai sulit ditemukan di apotek-apotek terdekat.
Bahkan, tim BPBD juga akan memberikan kit kebutuhan pribadi seperti sabun mandi dan sabun cuci, sikat gigi dan pasta gigi, obat nyamuk, pembersih lantai, dan lainnya. Kemudian untuk kebutuhan makan dan minum dijamin dari Dinas Sosial. Selanjutnya setelah selesai menjalani isolasi juga masih diberi paket sembako untuk dibawa pulang.
“Berbagai kegiatan juga bisa dilakukan oleh warga saat berada mess desa, seperti olahraga di luar ruangan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, sehingga tidak membosankan,” ungkapnya.
Dari sisi kesehatan akan ada petugas jaga yang siap mengontrol secara rutin, baik menggunakan link maupun WA. Di mess desa berjaga satu dokter, dua perawat, dan dua apoteker yang siap melayani jika ada keluhan pasien.
Hanya OTG dan pasien bergejala ringan yang akan tinggal di mess desa, sementara yang bergejala sedang hingga berat akan dikirim ke RSUD untuk mendapatkan perawatan intensif.
“Di hari ke 10 akan dilakukan swab antigen sebagai evaluasi, jika masih positif maka harus melanjutkan isolasi lima hari lagi, jika sudah negatif bisa pulang dengan mengantongi surat selesai menjalani isolasi,” pungkasnya. (mex/sla)
Editor : Slamet Harmoko