Intrusi Air Laut Meluas di Kotim, Kota Besi Berikutnya?

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:41 WIB
Bupati Kotim Halikinnor saat menyalurkan air bersih di wilayah selatan Kabupaten Kotim, belum lama ini.  (Akbar/Radar Sampit)
Bupati Kotim Halikinnor saat menyalurkan air bersih di wilayah selatan Kabupaten Kotim, belum lama ini. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Intrusi air laut yang menyebabkan air PDAM terasa payau di lima kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berpotensi meluas ke Kecamatan Kota Besi. Perumdam Tirta Mentaya memperingatkan risiko tersebut apabila hujan tidak turun hingga akhir Oktober 2026.

Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Kotim Edy Dyufriadi, mengatakan kondisi air PDAM di Kota Besi saat ini masih relatif aman untuk dikonsumsi. Namun, wilayah tersebut perlu diwaspadai jika musim kemarau terus berlanjut dan intrusi air laut semakin memengaruhi sumber air baku.

“Kalau hujan tidak turun sampai bulan Oktober berakhir kemungkinan Kecamatan Kota Besi juga bakal kena intrusi air laut,” kata Edy, Kamis (15/10).

Selain Kota Besi, sejumlah wilayah yang saat ini masih relatif aman untuk konsumsi antara lain Pundu, Cempaka Mulia, Parenggean, dan Kuayan. Kondisi tersebut tetap perlu dipantau seiring perubahan cuaca dan ketersediaan air baku.

Sebagai langkah penyesuaian, pengisian bantuan air bersih yang sebelumnya diarahkan ke Baamang kini dialihkan ke Kota Besi. Pengalihan ini dilakukan karena sumber air di Kota Besi dinilai masih relatif aman.

Meski demikian, sebagian masyarakat masih mengambil air dari Baamang. Edy menyebut air tersebut digunakan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), bukan untuk minum maupun memasak.

Perumdam tetap menyesuaikan operasional distribusi berdasarkan kondisi air baku agar pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan. Penyesuaian dilakukan di tengah penurunan debit dan perubahan kualitas air akibat intrusi air laut.

Sebelumnya, air PDAM di lima kecamatan di Kotim dinyatakan tidak diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi akibat peningkatan kadar salinitas air baku Sungai Mentaya. Wilayah tersebut meliputi Baamang, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, dan Mentawa Baru Ketapang.

Di Intake Tanah Mas, Kecamatan Baamang, air baku dilaporkan mulai terasa payau seiring intrusi air laut yang terjadi selama musim kemarau.
Perumdam juga mencatat penurunan debit air baku sekitar 40 hingga 50 liter per detik. Kondisi ini memengaruhi produksi dan distribusi air kepada pelanggan, terutama di zona pelayanan Baamang dan Ketapang.

Pelanggan di lima kecamatan terdampak diimbau tidak menggunakan air PDAM untuk minum dan memasak. Air yang didistribusikan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan MCK.
Sementara itu, Kota Besi masih menjadi salah satu wilayah yang sumber airnya relatif aman. Namun, jika hujan belum turun hingga akhir Oktober, wilayah tersebut berpotensi menghadapi persoalan serupa. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
PDAM Perumdam Tirta Mentaya