DAD Kotim: Kunjungan Menhut Harus Beri Solusi Nyata Atasi Karhutla

Rado. • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 20:12 WIB
ist
ist
 
SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Gahara, turut menyoroti jadwal kunjungan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni ke Sampit,  di tengah situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dirinya menyindir, kunjungan tersebut terkesan hanya numpang tidur, tanpa membawa solusi yang sangat dibutuhkan daerah.

Gahara menilai, kehadiran seorang menteri di tengah kondisi darurat semestinya membawa solusi konkret, bukan sekadar singgah lalu pergi. Apalagi, Kotim masih menghadapi keterbatasan dalam penanganan karhutla yang mengharuskan petugas bekerja siang dan malam.

“DAD sangat menyesalkan sikap Menhut. Di tengah kondisi karhutla seperti sekarang, datang ke Sampit hanya numpang tidur, lalu pergi lagi. Padahal, kami berharap kedatangannya membawa kabar baik dan bala bantuan untuk Kotim,” imbuhnya.

Gahara menilai, sikap tersebut menjadi gambaran minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap Kotim, bahkan Kalimantan Tengah (Kalteng). Menurutnya, daerah yang sedang menghadapi persoalan serius seharusnya mendapat perhatian dan dukungan nyata dari kementerian terkait.

Baca Juga: DAD Kotim Soroti Karhuta di Wilayah Konsesi Perusahaan

“Jakarta melihat kita ini seperti remah-remah. Makanya saya selalu katakan, kita orang Dayak ini eksistensinya diakui, tetapi tidak dengan hak-hak yang harus dipenuhi negara. Kita bisa lihat saat kebakaran sekarang ini. Salah satunya, kita bisa nilai sendiri,” paparnya.

Gahara menegaskan, persoalan karhutla di Kotim cukup kompleks dan seharusnya dipahami Menhut. Ia mencontohkan kebakaran di wilayah Desa Kandan dan Desa Camba. Sebagian lokasi kebakaran tidak jauh dari sumber air, ditambah lagi dengan fasilitas untuk mendukung pemadaman masih kurang.

Kondisi itu, menurutnya, menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan tenaga petugas. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan sarana dan prasarana agar sumber air yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk memadamkan api.

“Persoalan kita ini kompleks. Di Kandan dan Camba, sebagian objek kebakaran tidak jauh dari sumber air, tetapi fasilitas kita kurang. Hal-hal seperti ini seharusnya dilihat dan dipahami oleh menteri, sehingga ada solusi nyata,” papar Gahara.

Ia mengungkapkan, kemampuan daerah saat ini sudah sangat terbatas. Petugas tetap bekerja siang dan malam, tetapi upaya tersebut membutuhkan dukungan tambahan dari pemerintah pusat.

“Kalau boleh saya katakan, kita ini sebenarnya sudah tidak mampu. Cuma karena dipaksa-paksa saja, akhirnya tetap bekerja siang malam. Kalau kita hanya menunggu hujan datang, sama saja kita pasrah,” tegasnya.

DAD Kotim pun mendesak agar pemerintah pusat tidak sekadar hadir secara simbolis ketika daerah menghadapi bencana. Gahara menegaskan, Kotim tidak membutuhkan kunjungan yang hanya berakhir dengan kepulangan menteri, tetapi membutuhkan perhatian, bantuan, dan tindakan nyata untuk mengatasi karhutla.(ang/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
DAD Kabupaten Kotim Menhut solusi raja juli antoni karhutla