SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Hujan deras disertai kilat, petir, dan angin kencang mengguyur Desa Tumbang Mujam, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu malam (30/9/2026).
Sekretaris Desa Tumbang Mujam, Dolik, mengatakan hujan mulai turun sekitar pukul 19.15 WIB dan berlangsung hingga sekitar pukul 21.40 WIB.
“Hujan deras disertai kilat dan petir serta angin kencang. Semoga ini pertanda pergantian musim,” kata Dolik.
Hujan tersebut menjadi kabar baik di tengah kondisi kemarau dan karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Namun, BMKG mengingatkan satu atau beberapa kali hujan belum bisa menjadi patokan suatu wilayah telah memasuki musim hujan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo, mengatakan awal musim hujan ditentukan berdasarkan akumulasi curah hujan yang mencapai ambang tertentu secara berurutan.
“Penentuan awal musim hujan dilakukan dengan melihat akumulasi curah hujan. Apabila curah hujan mencapai lebih dari 50 milimeter per dasarian dan berlangsung secara berurutan, wilayah tersebut dapat dinyatakan memasuki musim hujan,” jelasnya.
Dasarian merupakan periode 10 hari dalam satu bulan. Dasarian I berlangsung pada 1–10, dasarian II pada 11–20, sedangkan dasarian III berlangsung dari 21 hingga akhir bulan.
Mulyono mengatakan masa transisi musim di Kotim diperkirakan berlangsung secara bertahap dari wilayah utara menuju selatan.
BMKG memperkirakan puncak musim hujan di Kotim terjadi pada Januari 2027. Sifat hujan diproyeksikan normal di wilayah tengah, sedangkan wilayah utara dan selatan berpotensi mengalami curah hujan di atas normal.
“Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2027. Sifat hujan diperkirakan normal di wilayah tengah, sedangkan bagian utara dan selatan dapat berada pada kategori di atas normal,” katanya.
Meski demikian, musim hujan tahun ini diperkirakan berlangsung lebih singkat sekitar tiga dasarian atau 30 hari dibandingkan kondisi normal. Artinya, kedatangan musim hujan diperkirakan lebih lambat.
Kondisi tersebut membuat Oktober masih menjadi periode penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang belum memperoleh hujan secara memadai.
Wilayah selatan menjadi perhatian karena diperkirakan menjadi kawasan yang paling akhir memasuki musim hujan. Sementara itu, titik panas masih dominan berada di wilayah tersebut.
Mulyono juga menjelaskan arah angin dari selatan menuju utara dapat membawa asap karhutla ke kawasan Sampit. Ketika kecepatan angin melemah, asap yang telah mencapai kawasan kota berpotensi bertahan lebih lama.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam penanganan karhutla hingga memasuki periode musim hujan.
“BMKG memperkirakan El Niño dan IOD positif masih bertahan hingga awal 2027,” pungkasnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko